Porfolio

A.Teori Belajar yang Mendasari Pembelajaran Berbasis Portofolio

Dasar dari pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio adalah teori belajar konstruktivisme, yang pada prinsipnya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungannya (Kamii, dalam Poedjiadi 1994:4). Prinsip paling umum dan esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme, bahwa dalam merancang sesuatu pembelajaran adalah anak-anak (siswa) memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (kelas). Pemberian pengalaman belajar yang beragam memberikan kesempatan siswa untuk mengelaborasikannya. Dengan demikian pendidikan dalam hal ini pembelajaran hendaknya memperhatikan hal di atas dan menunjang proses alamiah ini.
Menurut Yager, (1992:16 dalam Hidayat 1996) penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran. Sebagai contoh isu atau masalah yang muncul digunakan sebagai dasar pembahasan diskusi dan investigasi kegiatan di dalam atau di luar kelas. Pembelajaran Berbasis Portofolio sangat memperhatikan dan bahkan melakukan hal tersebut dalam proses kegiatan belajar siswa.
Berdasarkan konstruktivisme sosial yang dikemukakan oleh Vygotsky (1978 dalam Poedjiadi 1996) pada dasarnya memandang bahwa dengan mengadakan diskusi atau mendengar pendapat orang lain, seseorang membentuk pengetahuan atau membentuk pengetahuan yang sebelumnya telah dimilikinya.
Pembelajaran berbasis portofolio dapat juga dikatakan sebagai upaya mendekatkan siswa kepada objek yang dibahas. Pengajaran yang menjadikan materi pelajaran yang dibahas secara langsung dihadapkan kepada siswa, atau siswa secara langsung mencari informasi tentang hal yang dibahas ke alam atau masyarakat sekitarnya.
Pembelajaran berbasis portofolio memungkinkan siswa untuk :
1. Berlatih memadukan antara konsep yang diperoleh dari penjelasan guru atau dari buku bacaan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Siswa diberi kesempatan untuk mencari informasi di luar kelas, baik informasi yang sifatnya benda /bacaaan, penglihatan (objek langsung, TV/radio/internet) maupun orang/pakar/tokoh;
3. Membuat alternatif untuk mengatasi topik/objek yang dibahas
4. Membuat suatu keputusan (sesuai kemampuannya) yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajarinya, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
5. Merumuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dan mencegah timbulnya masalah yang berkaitan dengan topik yang dibahas.
Pembelajaran berbasis portofolio seperti di atas, memberi keragaman sumber belajar dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih sumber belajar yang sesuai sebagai landasan untuk menyusun (constructifism) fenomena alam atau masyarakat dan lain-lain pada masing-masing siswa.
Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip KBK dan KTSP, yakni berpusat pada anak sebagai pembangun pengetahuan. Dengan demikian baru akan diperoleh melalui pengalaman langsung yang lebih efektif. Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator belajar (KBK,2001:10).

B.Peran Portofolio sebagai Model Pembelajaran

Perlu diketahui Portofolio sebagai model pembelajaran diadaptasi dari model “we the people… Project Citizen” yang dikembangkan oleh Center Civic Education (CCE) yang berkedudukan di Calabas, Amerika Serikat. Di Indonesia model pembelajaran ini dikembangkan pertama kali di Jawa Barat melalui perintisan di enam SLTP negeri sejak tahun 2000.
Portofolio berasal dari bahasa Inggris “Portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Pengertian portofolio disini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan-tujuan penilaian portofolio. Biasanya portofolio merupakan karya terpilih seorang siswa, tetapi dalam model pembelajaran ini setiap portofolio berisi karya terpilih dari satu kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, mengolah, menganalisa dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji. Tampilan portofolio berupa tampilan visual atau audio yang disusun secara sistematis, melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan.
Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar sehingga memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam tugas-tugasnya.
Strategi instruksional yang digunakan dalam model pembelajaran portofolio ini pada dasarnya bertolak dari strategi “inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, research oriented learning” yang dikemas dalam model “project” oleh John Dewey . Dalam hal ini ditetapkanlah langkah-langkah sebagai berikut:
1. mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat
2. memilih suatu masalah untuk dikaji di kelas
3. mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji
4. membuat portofolio kelas
5. menyajikan portofolio/dengar pendapat
6. melakukan refleksi pengalaman belajar
Disitulah berbagai keterampilan dikembangkan seperti membaca, mendengarkan pendapat orang lain, bertanya, mencatat, menjelaskan, memilih, menimbang, mengkaji, merancang dan lain-lain.
Portofolio sebagai model pembelajaran terbagi dalam dua bagian, yakni:
1. portofolio tayangan (tampilan)
Pada umumnya berbentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) berjajar dan dapat berdiri sendiri tanpa penyangga. Namun tidak menutup kemungkinan berbentuk lain, seperti segitiga sama sisi, lingkaran, oval dan sebagainya sesuai dengan daya kreativitas siswa, dengan syarat tetap komunikatif. Portofolio tayangan kurang lebih berukuran 100 cm untuk bujur sangkar dan bentuk lainnya menyesuaikan, terbuat dari kardus/papan/gabus/steroform atau bahan lainnya. Perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan hendaknya memperhitungkan kekuatan/keawetannya sehingga tidak mudah rusak.
2. portofolio dokumentasi
Berisi kumpulan bahan-bahan terpilih yang dapat diperoleh siswa dari literature/buku, kliping dari koran/majalah, hasil wawancara dengan berbagai sumber, Radio/TV, foto, gambar, grafik, petikan dari sejumlah publikasi pemerintah/swasta, kebijakan dari pemerintah, observasi lapangan dan lain-lain. Pada prinsipnya portofolio dokumentasi merupakan bukti bahwa telah dilaksanakan penelitian.
Manfaat dari portofolio dokumentasi selain sebagai bukti telah melaksanakan penelitian, juga dimaksudkan untuk mendukung dan melengkapi portofolio tayangan, karena tidak semua bahan dapat dituangkan pada portofolio tayangan. Portofolio ini selanjutnya disajikan dalam simulasi/dengar pendapat dalam acara “Show Case” (gelar kemampuan) yang dilaksanakan di dalam kelas dengan bimbingan guru lainnya.

C.Metode dalam Pembelajaran Portofolio

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran portofolio,strategi pembelajaran ini dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan daya kreativitas guru. antara lain sebagai berikut:
1. Metode inkuiri
Metode ini memiliki keunggulan terutama untuk mengembangkan kemampuan berpikir maupun pengetahuan, sikap dan nilai pada peserta didik dibanding dengan pendekatan tradisional. Prosedur penggunaan model ini dapat dilakukan guru secara sederhana yaitu dengan memberikan sejumlah pertanyaan atau pernyataan kepada siswa. Selanjutnya siswa ditugasi untuk menjawab dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Dalam menjawab pertanyaan maupun pernyataan tersebut siswa perlu mengadakan suatu pencarian sebagai bukti bahwa jawaban yang mereka berikan adalah benar. Bukti-bukti itulah yang akan dijadikan sebagai portofolio yang berisi kumpulan dokumen berupa data yang diperoleh siswa dari berbagai sumber belajar baik dari buku atau media cetak, elektronik maupun bersumber dari manusia.
2. Metode E-Learning (Electronic Learning)
Yakni kegiatan pembelajaran melalui perangkat elektronik komputer yang tersambungkan ke internet, dimana peserta didik berupaya memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Penerapan metode ini antara lain dapat dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada siswa untuk mencari informasi yang berkaitan dengan kompetensi dasar/topik yang sedang dipelajari /dibahas dan selanjutnya siswa mempresentasikan hasil pencarian tersebut di kelas. Kumpulan hasil pencarian informasi yang ditemukan siswa itulah portofolio.
3. Metode VCT (Value Clarivication Technique)
Teknik atau cara mengungkapkan nilai. Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu pokok bahasan, cerita, nyanyian/lagu, peristiwa/kejadian, tempat, perbuatan atau perilaku, dan sebagainya. Model ini dapat dilaksanakan guru dengan cara :
 Siswa diberi tugas untuk mencari sesuatu yang dapat dianalisa, seperti cerita, hasil reportasi/liputan, mengamati secara akurat /seksama atas suatu kejadian, cerita tidak selesai dan harus diselesaikan, selanjutnya menganalisis nilai-nilai tersebut. Hasil analisa dikumpulkan sehingga menjadi portofolio.
 Guru menyiapkan daftar baik buruk, daftar tingkat urutan, daftar skala prioritas, daftar gejala kontinum (yang terus menerus), daftar penilaian diri sendiri, dan daftar membaca perkiraan orang lain terhadap diri kita. Siswa diminta untuk menjawab dalam kertas-kertas yang akhirnya dikumpulkan oleh guru sebagai portofolio siswa.

D.Langkah-langkah portofolio sebagai model pembelajaran

Sebelumnya di atas telah sedikit disinggung tentang langkah-langkah pembelajaran portofolio berdasarkan “Project” John Dewey. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat
Pada tahap ini terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan guru bersama siswa, yaitu mendiskusikan tujuan, mencari masalah, apa saja yang siswa ketahui tentang masalah-masalah di masyarakat dan memberi tugas Pekerjaan Rumah tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat yang mereka anggap sangat berarti/penting sesuai dengan kemampuan siswa. Semua informasi yang diperoleh harus dicatat untuk didiskusikan di kelas.
2. Memilih masalah untuk kajian kelas
Sebelum memilih masalah yang akan dipelajari atau dikaji, hendaknya para siswa mengkaji terlebih dahulu pengetahuan yang telah mereka miliki tentang masalah-masalah di masyarakat, dengan langkah berikut ini: 1) mengkaji informasi yang telah dikumpulkan 2) mengadakan pemilihan tentang masalah yang akan dikaji 3) melakukan penelitian lanjutan tentang masalah yang dipilih.
3. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
Guru hendaknya membimbing siswa dalam mendiskusikan sumber-sumber informasi melalui perpustakaan, kantor penerbitan surat kabar, pakar, profesional, ormas, kantor legislatif, lembaga pemerintah dan jaringan informasi elektronik serta membuat dan menyebarkan angket atau polling.
4. Membuat portofolio kelas
Pada tahap ini siswa telah menyelesaikan penelitian yang memadai untuk mulai membuat portofolio kelas. Caranya, kelas dibagi dalam 4 kelompok, dan setiap kelompok akan bertanggung jawab untuk membuat satu bagian portofolio.
Kelompok 1 bertugas: menjelaskan masalah yang dikaji
Kelompok 2 bertugas: menjelaskan berbagai kebijakan alternatif untuk mengatasi
masalah.
Kelompok 3 bertugas: mengusulkan kebijakan untuk mengatasi masalah
Kelompok 4 bertugas: membuat rencana tindakan yang dilakukan untuk pemecah-
an masalah.
Selanjutnya portofolio dokumentasi kelas disusun secara menyeluruh dilakukan oleh seluruh kelompok yang bekerja bersama-sama. Walaupun setiap kelompok memiliki tugas khusus, mereka harus saling berkomunikasi satu sama lainnya untuk berbagi informasi dan pemikiran. Dengan demikian walaupun setiap kelompok mengerjakan penggalan-penggalan tertentu, namun secara keseluruhan membentuk satu kerangka pemikiran yang utuh sebagai suatu proses pemecahan masalah yang kritis dan kreatif.
5. Penyajian portofolio (Show Case)
Show case dilaksanakan setelah kelas menyelesaikan portofolio tampilan maupun dokumentasi. Show case dapat dilakukan dengan cara show case satu kelas, antar kelas dan antar sekolah dalam lingkup wilayah, kota/kabupaten, provinsi dan nasional.
6. Merefleksi pada pengalaman belajar
Dalam melakukan refleksi pengalaman belajar siswa, guru melakukan upaya evaluasi untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah mempelajari berbagai hal yang berkenaan dengan topik yang dipelajari sebagai upaya belajar kelas secara kooperatif.

E.Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Berbasis Portofolio

Kelebihannya antara lain, pertama mendorong kolaborasi (komunikasi dan hubungan) antara siswa dan siswa dan guru. Kedua, memungkinkan guru mengakses kemampuan siswa dalam membuat atau menyusun laporan, menulis dan menghasilkan berbagai tugas akademik. Ketiga, mengembangkan dan meningkatkan wawasan siswa mengenai isu atau masalah-masalah kemasyarakatan atau lingkungannya serta memotivasi kepedulian siswa terhadap lingkungan masyarakat. Keempat, mendidik siswa memiliki kemampuan merefleksi pengalaman belajarnya. Kelima, mengembangkan keterampilan atau kecakapan sebagai warga negara. Kemudian yang terakhir, pengalaman belajar yang tersimpan dalam memorinya akan lebih tahan lama karena telah melakukan serangkaian proses belajar dari mengetahui, memahami diri sendiri, melakukan aktifitas dan belajar bekerjasama dengan rekan-rekan.
Sedangkan kekurangannya yaitu: menggunakan waktu yang relatif lama, memerlukan ketekunan, kesabaran dan keterampilan guru, memerlukan biaya dan memerlukan adanya jaringan komunikasi yang erat antara siswa, guru, sekolah, keluarga, masyarakat dan lembaga instansi pemerintah maupun swasta.

Sistem Penilaian

Definisi Penilaian

Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996) memengemukakan bahwa : educational evaluation is the process of delineating, obtaining,and providing useful, information for judging decision alternatif . Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.

Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian kelas dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Selain itu, ada juga yang mendefinisikannya sebagai suatu kegiatan yang dilakukan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi dasar setelah mengikuti proses pembelajaran.
Penilaian kelas merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Artinya, penilaian harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Penilaian berbasis kelas tidak terbatas pada ruang dan waktu. Penilaian tidak hanya dilakukan pada saat peserta didik melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga saat peserta didik melaksanakan proses pembelajaran di luar kelas, seperti di laboratorium atau lapangan. Oleh karena itu, penilaian berbasis kelas harus mengembangkan berbagai jenis evaluasi, baik evaluasi yang berkaitan dengan pengujian dan pengukuran tingkat kognitif menggunakan tes, maupun evaluasi terhadap perkembangan mental melalui penilaian tentang sikap, produk atau karya.
Penilaian berbasis kelas menggunakan pengertian penilaian sebagai “assessment” yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar mengajar. Data atau informasi dari penilaian berbasis kelas merupakan salah satu bukti yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan.
Hasil penilaian berbasis kelas tidak hanya diarahkan untuk memperoleh gambaran kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi melalui angka yang diperoleh, tetapi hasil penilaian harus memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses agar pembelajaran berjalan secara optimal.

Prinsip Penilaian Berbasis Kelas

Agar penilaian berbasis kelas dapat berjalan lancar dan optimal, maka seorang pendidik harus memegang prinsip-prinsip sebagai berikut:
• Motivasi
Penilaian berbasis kelas hendaknya dipandang sebagai upaya untuk mengenal kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh guru maupun peserta didik. Untuk mengenal kekuatan dan kelemahan tersebut, diperlukan usaha perencanaan terhadap perbaikan kegiatan pembelajaran secara terus menerus. Hal yang lebih penting, tujuan akhir penilaian berbasis kelas bukan terletak pada pencapaian angka yang tinggi, melainkan terletak pada cara bagaimana memotivasi peserta didik sehingga diperoleh hasil yang maksimum.
• Validitas
Harus menjamin tercapainya standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator. Kesesuaian antara penilaian berbasis kelas dengan tujuan akan meningkatkan validitas. Dengan demikian maka validitas merupakan suatu hal yang sangat perlu diperhatikan.
• Adil
Penilaian berbasis kelas menekankn pada adanya perlakuan yang adil kepada semua peserta didik. Artinya, semua peserta didik harus mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai tanpa membedakan latar belakang sosek, budaya, bahasa, dan jenis kelamin.
• Terbuka
Menekankan adanya keterbukaan, dimana semua pihak baik pendidik maupun peserta didik perlu mengenali kemampuan masing-masing, jenis penilaian, maupun format penilaian yang akan digunakan.
• Berkesinambungan
Harus dilakukan secara berencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik. Hal ini dilakukan untuk melihat kesinambungan antara materi pokok yang satu dengan materi pokok yang lain.
• Bermakna
Penilaian berbasis kelas dapat melihat perkembangan kemampuan peserta didik secara holistik. Selain itu, penilaian berbasis kelas dapat ditindaklanjuti oleh semua pihak, terutama pendidik, peserta didik, dan orang tua.
• Menyeluruh
Penilaian berbasis kelas dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur untuk menjamin tersedianya informasi yang utuh dan lengkap tentang kinerja peserta didik, baik yang menyangkut aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik. Jadi, sangat tidak mungkin jika pendidik hanya terpaku pada satu jenis penilaian saja, tertulis misalnya.
• Edukatif
Penilaian berbasis kelas tidak dimaksudkan untuk membuat keputusan akhir tentang nasib peserta didik atau hal-hal lain yang dapat menurunkan motivasi peserta didik dalam belajar. Pelaksanaannya didasarkan pada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu : bagaimana peserta didik memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan perolehan hasil belajar sebelumnya? dan bagaimana guru mengajar lebih efektif dibandingkan dengan pengajaran sebelumnya

Tujuan Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian berbasis kelas memiliki tujuan sebagai berikut:
• Penelurusan (keeping track), yaitu untuk menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana.
• Pengecekan (checking-up), yaitu untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didik dalam proses pembelajran.
• Pencarian (finding-out), yaitu untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran.
• Menyimpulkan (summing-up), yaitu untuk menyimpulkan apakah anak didik telah menguasai seluruh komptensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum.

Fungsi Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian berbasis kelas memiliki fungsi sebagai berikut:
• Fungsi Motivasi
Penilaian yang dilakukan oleh guru di kelas harus mendorong motivasi siswa untuk belajar. Latihan tugas dan ulangan yang diberikan guru harus memungkinkan siswa melakukan proses pembelajaran baik secara individu maupun secara kelompok.
• Fungsi Belajar Tuntas
Penilaian dikelas harus diarahkan untuk memantau ketuntasan belajar siswa. Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh guru adalah: apakah siswa sudah menguasai kemampuan yang diharapkan, siswa manakah yang belum menguasai kemampuan tertentu, dan tindakan apa yang harus dilakukan agar siswa akhirnya menguasai kemampuan tersebut.
• Fungsi sebagai Indikator Efektivitas Pengajaran
Disamping untuk memantau kemajuan belajar siswa, penilaian kelas juga dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh proses belajar-mengajar telah berhasil.
• Fungsi Umpan Balik
Hasil penilaian harus dianalisis oleh guru sebagai bahan umpan balik bagi siswa dan guru itu sendiri. Umpan balik hasil penilain harus sangan bermanfaat bagi siswa agar siswa mengetahui kelemahan yang dialaminya dalam mencapai kemampuan yang diharapkan dan siswa diminta melakukan latihan dan atau pengayaan yang dianggap perlu baik sebagai tugas individu maupun kelompok.

Ciri Penilaian Kelas

Penilaian kelas memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
• Belajar Tuntas
Belajar Tuntas (mastery learning): peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar, dan hasil yang baik.
• Otentik
Penilaian otentik (autehentic assessment) adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan (kompetensi) telah benar-benar dikuasai dan dicapai.
Berikut adalah prinsip-prinsip penilaian otentik:
 Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran (a part of, not apart from instruction).
 Penenilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata (real world problems). Bukan masalah dunia sekolah (school workkind of problems)
 Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karasteristik dan essensi pengalaman belajar.
 Penilaian harus bersifat holistic yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, apektif dan sensorimotorik).
• Berkesinambungan
Memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, dan Ulangan Kenaikan Kelas.
 Ulangan Harian: siswa mampu menyelesaikan satu atau beberapa indikator (tertulis, observasi, penugasan, atau lainnya).
 Ulangan Tengah Semester: siswa mampu menyelesaikan beberapa Kompetensi Dasar pada semester yang bersangkutan
 Ulangan Akhir Semester: siswa mampu menyelesaikan semua Kompetensi Dasar pada semester yang bersangkutan.
 Ulangan Kenaikan Kelas : siswa mampu menyelesaikan semua Kompetensi Dasar pada semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap
• Berdasarkan Acuan Kriteria/Patokan Nilai
Prestasi kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan peserta kelompok, tetapi dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan
• Menggunkan Berbagai Cara dan Alat Penilaian
Penilaian satu kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar., baik berupa domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat dipilih teknik penilaian yang sesuai. Terdapat tujuh jenis teknik penilaian yang dapat digunakan untuk mendapatkan data tentang profil peserta didik, yaitu: Test Tertulis, Penilaian Kinerja, Penilaian Proyek, Penilaian, Hasil Kerja, Penilaian Sikap dan Penilaian Diri.

Ragam Penilaian Kelas

Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai teknik/cara sebagai berikut:
1. Penilaian/Tes Tertulis
Tes tertulis memiliki tujuan sebagai berikut:
• Mendiagnosa siswa (kekuatan dan kelemahan)
• Menilai kemampuan siswa (keterampilan dan pengetahuan atau pemahaman)
• Memberikan bukti atas kemampuan yang telah dicapai
• Menyeleksi kemampuan siswa baik secara individu maupuan secara kelompok
• Monitoring standar pendidikan
Fungsi tes tertulis:
• Fungsi Formatif, bertujuan mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar
• Fungsi Sumatif, betujuan untuk mengukur keberhasilan peserta didik secara menyeluruh
2. Penilaian Kinerja
Yaitu penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta test diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan didalam berbagai konteks. Jadi boleh dikatakan bahwa penilaian kerja adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan kedalam berbagai macam konteks sesuai dengan ktiteria yang diinginkan.
3. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik yang dikumpulkan dari waktu ke waktu dari proses pembelajaran dan membandingkan hasil setiap karya tersebut. Dan pada setiap hasil karya peserta didik diungkapkan kekuatan dan kelemahannya, sehingga peserta didik memiliki catatan-catatan yang dapat memperbaiki hasil karyanya.
4. Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam peiode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.
5. Penilaian Hasil Kerja
Terdapat dua tahapan penilaian yaitu : pertama, penilaian tentang pemilihan dan cara penggunaan alat serta prosedur kerja siswa. Kedua, penilaian tentang kualitas teknis maupun estetik hasil karya atau kerja siswa.
6. Penilaian Sikap
Menurut Klausmeier (1985), ada tiga metode belajar dalam rangka pembentukan sikap, yaitu:
• Mengamati dan meniru, pembelajaran model ini berlangsung pengamatan dan peniruan melalui model (lerning through moderling).
• Menerima penguatan, penguatan, dapat berupa ganjaran (penguatan positif) dan dapat berupa penguatan hukuman (penguatan negative).
• Menerima informasi verbal, informasi tentang berbagai hal dapat diperoleh melalui lisan atau tulisan.
7. Penilaian Diri
Yaitu penilaian yang dilakukan sendiri oleh guru atau siswa yang bersangkutan untuk kepentingan pengelolaan kegiatan belajar mengajar ditingkat kelas. Tujuan utama dari penilaian diri adalah untuk mendukung atau memperbaiki proses dan hasil belajar. Selain itu dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.

Bentuk Instrumen dalam Penilaian Berbasis Kelas

Adapun bentuk instrument pada tes tertulis adalah sebagai berikut:
• Pilihan Ganda
Bentuk soal pilihan ganda dapat dipakai untuk menguji penguasaan komptensi pada tingkat berfikir rendah seperti pengetahuan (recall)dan pemahaman, sampai pada tingkat berfikir tinggi seperti aplikasi, analisis, sintetis dan evaluasi. Bentuk soal terdiri dari item (pokok soal) dan option (pilihan jawaban). Pilihan jawaban terdiri atas kunci jawaban dan pengecoh (distractor).
Kelebihan Soal Pilihan Ganda antara lain:
 Cepat koreksinya (bisa dikoreksi dengan mesin scan atau bisa dikoreksi oleh siapa saja asal ada kunci jawaban)
 Dapat diterapkan di segala jenjang
 Mencakup banyak materi pembelajaran
 Dapat digunakan untuk membedakan antara siswa yang kemampuannya tinggi dan rendah secara terukur sesuai dengan skor
 Dapat mengukur kemampuan siswa sesuai dengan domain yang dikehendaki sesuai dengan tingkat kesukarannya
 Membantu siswa untuk memilih jawaban yang dianggap benar karena terdapat jawaban yang mempermudah siswa untuk menjawab soal (membantu mengingat materi)
Kekurangan Soal Pilihan Ganda antara lain:
 Diperlukan waktu yang lama untuk menyusunnya
 Kurang menggambarkan sebuah proses
 Kesulitan untuk mencari pengecoh yang benar-benar homogen
 Hanya dapat mengukur pengetahuan / kognitif
 Siswa dapat bekerjasama dalam menjawab
 Jumlah soal harus banyak agar dapat mewakili semua materi yang telah dipelajari
 Kurang dapat menggambarkan kemampuan siswa secara utuh
 Tidak dapat mendeteksi langkah siswa dalam mengerjakan soal
 Tidak bisa digunakan untuk mengukur kreativitas siswa
 Tingkat kesulitan soal biasanya sama / lebih sulit tetapi bobot nilai lebih kecil
 Kurang memacu siswa untuk memberikan analisis soal dan memberikan jawaban
 Siswa cenderung memilih jawaban hanya dengan prinsip untungan-untungan (spekulasi jawaban)
• Benar/Salah
Bentuk soal ini biasanya berupa statement yang memiliki dua kemungkinan jawaban yaitu benar/salah atau ya/tidak. Ciri khusus dari soal berbentuk benar salah adalah untuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana. Bentuk soar benar salah dapat juga menggunakan gambar, tabel, dan diagram.
Agar dapat menghasilkan soal benar salah yang relatif baik maka ada beberapa kaidah penulisan soal yang harus diikuti yaitu:
 Hindari penyataan yang sangat umum, seperti penggunaan kata selalu, umumnya, seringkali, kadang-kadang,tidak pernah, semua, dan tidak ada.
 Hindari pernyataan yang berlebihan, seperti penulisan soal yang berliku-liku, panjang lebar, atau soal cerita. Soal benar salah harus dirumuskan dengan singkat, jelas dan tegas.
 Hindari pernyataan negatif, sepeti bukan, tidak, kecuali, tak, dan lain sebagainya.
 Soal hendaknya tidak menjurus kejawaban tertentu, seperti kadang-kadang, pasti, selalu, dan tidak satupun.
 Jumlah soal yang benar sama sama dengan jumlah soal yang salah.
Kelebihan Soal Benar Salah antara lain:
 Mengoreksinya mudah
 Pembuatan soal relative lebih mudah karena hanya mengarah pada 2 option jawaban dan tidak perlu membuat jawaban pengecoh
 Dapat mencakup materi pelajaran yang lebih luas.
 Tepat untuk mengukur kemampuan kognitif (ingatan).
 Pernyataan soal bisa lebih singkat.
 Efisiensi waktu dalam pembuatan soal.
Kekurangan Soal benar Salah antara lain:
 Tidak bisa untuk mengukur kemampuan analisa.
 Kurang cocok untuk soal hitungan
 Soal kurang bervariasi, hanya berisi pernyataan-pernyataan saja
 Berpeluang untuk menjawab dengan berspekulasi.
 Tidak menggugah ide atau gagasan siswa karena jawabannya dibatasi.
 Membuat siswa malas berfikir.
 Diperlukan jumlah soal yang banyak untuk pencapaian indikator.
• Menjodohkan
Bentuk ini cocok untuk mengetahui fakta dan konsep. Cakupan materi bisa banyak, namun tingkat berfikir yang terlibat cenderung rendah. Menjodohkan (Matching Test) terdiri atas satu sisi pertanyaan dan satu sisi jawaban, setiap pertanyaan mempunyai jawaban pada sisi sebelahnya. Siswa ditugaskan untuk memasangkan atau mencocokkan, sehingga setiap pertanyaan mempunyai jawaban yang benar. Saran Penulisan:
 Banyaknya jawaban di sebelah kanan lebih dari jawaban di sebelah kiri
 Lebihnya jawaban hendaknya menunjukkan jawaban yang salah
 Materi di setiap sisi sebaiknya mengenai satu pokok bahasan saja
 Pisahkan menjadi dua kolom, kolom pertama memuat jawaban, nomor soal dan pertanyaan. Sedangkan kolom kedua memuat kode dan pilihan jawaban
Kelebihan Soal Menjodohkan antara lain:
 Dapat menilai pemahaman siswa terhadap informasi yang berhubungan satu sama lain .
 Cocok untuk pokok bahasan yang menggunakan istilah.
 Memudahkan siswa menjawab soal karena jawaban sudah tersedia.
 Dapat memotivasi daya ingat siswa.
 Tidak diperlukan pengecoh yang banyak.
Kekurangan Soal Menjodohkan antara lain:
 Pilihan jawaban hanya jawaban yang pendek, tidak dapat menggunakan jawaban yang sedikit terurai.
 Sulit mencari pasangan-pasangan yang relevan dengan soal.
 Hanya mengukur materi yang bersifat hapalan/recall.
 Bila yang belum terjawab tinggal sedikit dapat ditebak ditebak dengan mudah.
 Tidak melatih siswa untuk berfikir kritis.
 Memungkinkan siswa menjawab berspekulasi/untung-untungan.
• Jawaban Singkat/Isian Singkat
Tes bentuk jawaban atau bentuk jawaban atau isian singkat dibuat untuk menyediakan tempat kosong yang disediakan bagi siswa untuk menuliskan jawaban. Jenis soal jawaban singkat ini bisa berupa pertanyaan dan melengkapi atau isian. Penskoran isian singkat dapat dilakukan dengan memberikan skor satu untuk jawaban benar salah skor kosong untuk jawaban salah.
Kelebihan Soal Isian/Jawaban Singkat antara lain:
 Waktu pembuatan soal tidak terlalu lama
 Dapat dibentuk dari pertanyaan yang mudah sampai sulit
 Mengetahui kemampuan menghapal dari siswa
 Merangsang nalar siswa
 Dapat digunakan untuk materi-materi teori
Kekurangan Soal Isian/Jawaban Singkat antara lain:
 Tidak mengetahui kemampuan siswa secara proses
 Tidak memberi kesempatan pada siswa untuk menuangkan kreatifitasnya secara luas
 Tidak banyak mengimprovisasi jawaban sehingga tidak bisa mengetahui siswa yang berbakat / kreatif
 Kurang mencerminkan demokrasi pendapat siswa, karena hanya melengkapi kalimat saja
 Kadang-kadang tujuan dari soal tidak sama diterima oleh siswa, sehingga jawaban siswa bervariasi (padahal hanya ada satu jawaban benar)
 Soal yang diberikan banyak mengacu pada soal-sola teori atau cerita
• Uraian Objektif
Tes uraian objektif adalah bentuk tes uraian yang butir soalnya memiliki sehimpunan jawaban dengan rumusan yang relatif lebih pasti, sehingga dapat dilakukan penskoran secara objektif (walaupun pemeriksa berbeda namun dapat menghasilkan skor yang relatif sama). Artinya model tes ini memiliki kunci jawaban yang pasti, sehingga jawaban benar bisa diberi skor 1 dan jawaban salah 0. Anthony J. Nitko (1996) mengatakan bahwa tes essay terbatas tepat dipergunakan untuk mengevaluasi hasil belajar kompleks yang berupa kemampuankemampuan:
 Menjelaskan hubungan sebab akibat
 Melukiskan pengaplikasian prinsip-prinsip
 Mengajukan argumentasi-argumentasi yang relevan
 Merumuskan hipotesis-hipotesis dengan tepat
 Merumuskan asumsi-asumsi yang tepat
 Melukiskan keterbatasan-keterbatasan data
 Merumuskan kesimpulan-kesimpulan secara tepat
 Menjelaskan metoda dan prosedur
 Menuntut kemampuan siswa untuk melengkapi jawabannya

• Uraian Bebas
Tes uraian bebas ialah tes yang disajikan dalam bentuk uraian, yang mengharapkan jawaban dalam bentuk uraian pula. Biasanya bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menjabarkan, memadukan, dan menilai aspek kognitif di samping kemampuan lainnya.
Kelebihan Soal Jawaban Uraian Bebas antara lain:
 Penyusunan soal lebih ringkas, waktu yang dibutuhkan pun lebih singkat
 Mengukur kemampuan lebih mendalam, tiap kompetensi dasar, menggali kompetensi siswa seutuhnya
 Siswa lebih berkreasi dan bervariasi dalam memberikan jawaban
 Memberikan gambaran lebih jelas tentang penguasaan siswa terhadap materi tertentu
 Memberikan latihan kepada siswa dalam hal menyusun kalimat untuk mengungkapkan pendapatnya menggunakan pola berpikir yang lebih berkreatif secara logis dan berstruktur (komunikasi tertulis)
 Dapat menunjukkan golongan/ kelompok siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, atau rendah
 Siswa tidak bisa menjawab dengan berspekulasi
 Kesempatan untuk menyontek lebih kecil
Kekurangan Soal Jawaban Uraian Bebas antara lain:
 Sulit dalam penskoran
 Memerlukan waktu yang lama dalam koreksi
 Guru kadang mengalami kesulitan membaca tulisan siswa
 Bahasa yang digunakan siswa dalm menjawab soal sering tidak baku
 Jawaban siswa kadang melebar dari apa yang ditanyakan
• Pertanyaan Lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah: (1) dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung; (2) bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud; (3) hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik. Kelemahannya adalah (1) subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes, (2) waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama.

Pengembangan Bahan Ajar

A. Prosedur Pembelajaran
Perekayasaan proses pembelajaran dapat didesaian oleh guru sedemikian rupa. Idealnya kegiatan untuk siswa pandai harus bebbeda dengan kegiatan untuk siswa sedang atau kurang, walaupun untuk memahami satu jenis konsep yang sama karena setiap siswa mempunyai keunikan masing-masing. Hal ini menunjukan bahwa pemahaman terhadap pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tidak dapat diabaikan.
Istilah pendekatan, metode, dan teknik dalam proses pembelajaran. Pendekatan dapat diartikan sebagai seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat dalam belajar mengajar. Metode adalah rencana menyeluruh tentang pengertian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan kedekatan yang ditentukan. Sedangkan teknik adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam ke;as sesuai dengan metode dan pendekatan yang dipilih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat aksiomatis, bersifar prosedural, dan teknik bersifat operasional.

Pendekatan
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, diantaranya :
a. Pendekatan fisiologis ( phsycological approach )
Pendekatan ini perlu dipertimbangkan mengingat aspek psikologis manusia yang meliputi aspek rasional/intelektual, aspek emosional, dan aspek ingatan.
b. Pendekatan Sosio-kultural ( social-cultural approach )
Suatu pendekatan yang melihat dimensi manusia tidak saja sebagai individu melainkan juga sebagai makhluk sosial budaya yang memiliki berbagai potensi yang signifikan bagi pengembangan masyarakat, dan juga mampu mengembangkan sistem budaya dan kebudayaan yang berguna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.

Metode
Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan ditetapkan. Dalam proses pembelajaran tentunya ada metode yang digunakan yang turut menentukan sukses atau tidaknya pencapaian tujuan pembelajaran
Secara harfiah, kata metodologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “mefha” yang berarti melalui, “hodos” yang berarti jalan atau cara, dan kata “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi, metodologi pendidikan adalah jalan yang kita lalui untuk memberikan kepahaman atau pengertian kepada anak didik, atau segala macam pelajaran yang diberikan.
Berikut ini beberapa metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran
1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan kepada anak didik dilakukan secara lisan. Yang perlu diperhatikan, hendaknya ceramah mudah diterima, isinya mudah dipahami serta mampu menstimulasi pendengar (anak didik) untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar dari isi ceramah yang disampaikan.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, tujuan metode ceramah adalah menyampaikan bahan yang bersifat informasi (konsep, pengertian, prinsip-prinsip) yang banyak serta luas. Secara spesifik metode ceramah bertujuan untuk:
a) Menciptakan landasan pemikiran peserta didik melalui produk ceramah yaitu bahan tulisan peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah.
b) Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran.
c) Merangsang peserta didik untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pemerkayaan belajar.
d) Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara gamblang.
e) Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh peserta didik.
Alasan guru menggunakan metode ceramah harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Metode ini digunakan karena pertimbangan:
a) Anak benar-benar memerlukan penjelasan, misalnya karena bahan baru atau guna menghindari kesalahpahaman.
b) Benar-benar tidak ada sumber bahan pelajaran bagi peserta didik.
c) Menghadapi peserta didik yang banyak jumlahnya dan bila menggunakan metode lain sukar diterapkan.
d) Menghemat biaya, waktu dan peralatan.

2) Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah mengajukan pertanyaan kepada peserta didik yang dimaksudkan untuk merangsang peserta didik untuk berpikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
Proses tanya jawab terjadi apabila ada ketidaktahuan atau ketidakpahaman akan sesuatu peristiwa. Dalam proses belajar mengajar, tanya jawab dijadikan salah satu metode untuk menyampaikan materi pelajaran dengan cara guru bertanya kepada peserta didik atau peserta didik bertanya kepada guru. Adapun tujuan metode tanya jawab adalah:
a) Mengecek dan mengetahui sampai sejauhmana kemampuan anak didik terhadap pelajaran yang dikuasainya.
b) Memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang sesuatu masalah yang belum dipahaminya.
c) Memotivasi dan menimbulkan kompetisi belajar.
d) Melatih anak didik untuk berpikir dan berbicara secara sistematis berdasarkan pemikiran yang orsinil.

3) Metode Tulisan
Metode tulisan adalah metode mendidik dengan huruf atau simbol apapun, ini merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan jembatan untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

4) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Untuk mendapatkan hal yang disepakati, tentunya masing-masing menghilangkan perasaan subjektivitas dan emosionalitas yang akan mengurangi bobot pikir dan pertimbangan akal yang semestinya.
Diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat, dan pengalaman untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu (Nana Sudjana, 2002). Metode diskusi bertujuan untuk:
a) Melatih peserta didik mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan dan menyimpulkan bahasan.
b) Melatih dan membentuk kestabilan sosio-emosional.
c) Mengembangkan kemampuan berpikir sendiri dalam memecahkan masalah sehingga tumbuh konsep diri yang lebih positif.
d) Mengembangkan keberhasilan peserta didik dalam menemukan pendapat.
e) Mengembangkan sikap terhadap isu-isu kontroversial.
f) Melatih peserta didik untuk berani berpendapat tentang sesuatu masalah.

5) Metode Pemecahan Masalah (problem solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah. Metode problem solving bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mengumpulkan data sampai kepada menarik kesimpulan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode problem solving adalah sebagai berikut:
a) Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
b) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain-lain.
c) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh.
d) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok.
e) Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulam terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.

6) Metode Kisah
Pendidikan dengan metode ini dapat membuka kesan mendalam pada jiwa seseorang (anak didik), sehingga dapat mengubah hati nuraninya dan berupaya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai dampak dari kisah-kisah itu, apalagi penyampaian kisah-kisah tersebut dilakukan dengan cara menyentuh hati dan perasaan.

7) Metode Perumpamaan
Metode perumpamaan adalah suatu metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan hakikat dari realitas sesuatu. Perumpamaan dapat dilakukan dengan menggambarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang serupa, seperti mengumpamakan sesuatu yang rasional-abstrak engan sesuatu yang bisa diindera. Adapun tujuan perumpamaan:
a) Perumpamaan dapat mendekatkan gambaran yang diumpamakan dalam pikiran pendengar.
b) Merasa puas dengan gagasan tertentu, sehingga kepuasan itu menjadi satu argumen yang kokoh lewat gambaran yang mirip.
c) Memberikan motif dengan cara memperindah atau menakut-nakuti.
d) Memiliki hasrat atau keinginan, sehingga setelah hasrat atau keinginan lahir, maka orang akan memiliki ketetapan hati untuk menerima apa yang disarankan.
e) Untuk memuji atau mencela, dan untuk mengagungkan atau menghinakan.
f) Mengasah otak dan menggerakkan potensi pemikiran atau timbul kesadaran untuk merenung.

8) Metode Pemahaman dan Penalaran
Metode ini dilakukan dengan membangkitkan akal dan kemampuan berpikir anak didik secara logis. Metode ini adalah metode mendidik dengan membimbing anak didik untuk dapatt memahami problema yang dihadapi dengan menemukan jalan keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih anak didik menggunakan pikirannya dalam menata dan menginventarisasi masalah, dengan cara memilah-milah, membuang mana yang salah, meluruskan yang bengkok, dan mengambil yang benar.
9) Metode Perintah Berbuat Baik dan Saling Memotivasi
Pemberian nasihat atau penyuluhan kepada anak adalah salah satu yang sangat penting untuk dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan menggugah perasaan dan kemauan anak didik untuk dapat melakukan sesuatu yang positif dan mengaplikasikan apa yang telah diajarkan. Penyuluhan juga dapat diartikan sebagai proses bimbingan kepada anak didik sebagai subjek individual dan sosial yang perlu diaktualisasikan potensi dan kompetensinya secara maksimal.
Metode ini dimaksudkan untuk memotivasi anak didik untuk mengaplikasikan ajaran yang telah di terapkan. Tentunya dalam pemberian bimbingan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik. Diantaranya adalah:
• karakteristik anak didik seperti kompetensi, potensi, minat, bakat, kecerdasan dan sikapnya
• kondisi lingkungan anak didik seperti lingkungan keluarganya, sekolah, maupun masyarakat
• kemungkinan-kemungkinan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki untuk pembinaan perkembangan anak didik selanjutnya
• serta juga pendidik perlu untuk memperhatikan kondisi fisik dan psikis anak didik termasuk hal hal yang berkaitan dengan kesulitan emosional yang bisa menghambat perkembangan anak didik.

Wujud dari proses pemberian nasihat kepada anak didik disekolah dapat bersifat:
a) memelihara atau preservative, yakni membantu memelihara dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak didik dapat tumbuh berkembang secara optimal.
b) Mencegah atau preventif, yakni membantu mencegah terjadinya tindakan anak didik yang kurang efektif dan efisien.
c) Menyembuhkan atau curative, yakni membantu memperbaiki kekeliruan yang telah terjadi.
d) Merehabilitasi atau rehabilitation, yakni meninjaklanjuti sesuadah anak didik memperoleh bantuan dan bimbingan untuk diusung kearah yang lebih baik.

Adapun untuk pemberian nasihat dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini:
a) Teguran secara langsung
Teguran secara langsung dimaksudkan untuk memberikan kesadar kepada anak didik untuk tidak melakukan hal yang tidak baik. Teguran ini diberikan secara langsung dan bersifat lebih tegas serta memberikan efek yang lebih mendalam kepada anak didik yang bersangkutan tersebut.
b) Teguran secara tidak langsung
Teguran secara tidak langsung ini bersifat lebih halus serta memberikan kesan menjaga perasaan anak didik yang bersangkutan tersebut sehingga murid yang bersangkutan dapat merasa tenteram dan nyaman ketika guru meluruskan kesalahannya, sehingga murid dapat menyiapkan mentalnya untuk memperbaiki kesalahannya.

10. Metode Suri Tauladan
Metode ini dimaksudkan untuk memberikan contoh yang baik kepada anak didik. Selaku pendidik sudah seharusnya untuk memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak didik. Dalam usia anak didik, mereka sedang mencari sosok yang dapat mereka contoh. Dan para pendidik diharapkan dapat mencadi sosok yang dicontoh oleh anak didiknya tersebut.

11. Metode Manfaat
Manfaat atau hikmah mengandung pengertian perkataan tegas dan benar antara yang benar dan yang salah. Penggunaan metode ini dimaksudkan dalam upaya menuntut orang lain untuk menggunakan akalnya untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan, namun dalam hal ini diperlukan penjelasan yang rasional, keterangan yang tegas serta apa yang dikemukakan dengan dasar atau alasan yang benar beserta bukti yang nyata.
Anak didik diberikan pengarahan atau pemberitahuan tentang manfaat dari suatu persoalan, sehingga dapat memberikan pandangan baru bagi para anak didiknya.

9. Metode Peringatan dan Pemberian Motivasi
Motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan. Motivasi terbentuk oleh tenaga tenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu. Terhadap tenaga-tenaga tersebut para ahli memberikan istilah yang berbeda seperti desakan atau drive, motif atau motive, kebutuhan atau need dan keinginan atau wish.
Desakan atau drive diartikan sebagai dorongan yang diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani. Motif adalah dorongan yang terarah kepada pemenuhan kebutuhan psikis atau rohaniah. Kebutuhan adalah merupakan suatu keadaan dimana individu merasakan adanya kekurangan atau ketiadaan sesuatu yang diperlukannya. Sedangkan wish adalah harapan untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu yang diinginkan atau dibutuhkan. Kondisi-kondisi yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu kegiatan disebut motivasi.
Perilaku individu tidak berdiri sendiri, selalu ada hal yang mendorongnya dan tertuju pada suatu tujuan yang ingin dicapainya. Memotivasi anak sangat perlu dilakukan oleh pendidik. Memotivasi anak adalah suatu kegiatan member dorongan agar anak didik bersedia dan mau mengerjakan kegiatan atau perilaku yang diharapkan. Anak yang memiliki motivasi akan memungkinkan dia untuk mengembangkan dirinya sendiri. Salah satu contoh untuk memotivasi anak adalah dengan cara membuat senang hati anak, membantu agar anak terpancing melaksanakan sesuatu, kelembutan, menyayangi dan mencintainya.

10. Metode Praktik
Metode praktik dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seraya diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas dan gambling sekaligus dapat mempraktikan materi yang dimaksud.

11. Metode Karyawisata
Dengan metode karyawisata ini dapat memberikan pengaruh yang besar dalam menggiatkan fisik dan jiwa. Dianjurkan bagi orang tua dan pendidik untuk mengkhususkan waktunya untuk kegiatan karyawisata ini.
Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan rekreasi adalah:
a) Menyegarkan tubuh, menambah kesehatan, dan melakukan terapi penyembuhan atas beberapa penyakit.
b) Melatih anak didik agar kuat, tahan banting, dan mampu menahan lapar dan dahaga.
c) Para pembimbing atau pendidik atau pendidik menganjurkan agar memperhatikan tingkah laku anak-anak dan sikap mereka dalam menghadapi berbagai hal yang beragam dan berbeda.

12. Pemberian Ampunan dan Bimbingan
Metode ini dilakukan dalam rangka member kesempatan kepada anak didik untuk memperbaiki tingkah lakunya dan mengembangkan dirinya.
Bimbingan orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya perlu diberikan dengan memberikan alasan, penjelasan, pengarahkan dan diskusi-diskusi. Juga bisa dilakukan dengan teguran, mencari tahu penyebab masalah dan kritikan sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku anak.
Menurut Muhammad Surya, bimbingan lebih merupakan suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Bimbingan akan tepat apabila dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan minat. Menurut Irwan Prayitno, bimbingan dengan memberikan nasihat perlu memperhatian cara-cara sebagai berikut.
1. Cara memberikan nasihat lebih penting dibandingkan isi atau pesan nasihat yang akan disampaikan.
2. Memelihara hubungan baik antara orangtua dengan anak, guru dengan murid, karena nasihat akan mudah diterima bila hubungannya baik.
3. Memberikan nasihat seperlunya dan jangan berlebihan. Nasihat sebaiknya tidak langsung, tetapi juga tidak bertele-tele sehingga anak tidak bosan.
4. Berikan dorongan agar anak bertanggung jawab dan dapat menjalankan isi nasihat.

13. Metode Kerjasama
Yang dimaksudkan dengan metode kerjasama ialah upaya saling membatu antara dua orang atau lebih, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok lainnya dalam melaksanakan tugas atau menyelesaikan problema yang dihadapi dan atau menggarap berbagai program yang bersifat prospektif guna mewujudkan kesejahteraan bersama.

14. Metode Pentahapan
Dalam metode ini adalah penyampaian secara bertahap, sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur. Dalam program perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya diikuti langkah-langkah strategis sesuai denga tahapan-tahapannya, misalnya dari mudah ke sulit, dari sederhana ke kompleks, dari kongkrit ke abstrak.

Teknik
Langkah pembelajaran memuat rangkain kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan siswa secara berurutan sehingga cocok dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Berbagai metode yang dikemukakan di atas selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajarannya.
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kecakapan kognitif banyak sekali. Di antaranya dengan ‘Sorogan’ pada saat menghafal ayat-ayat Al-Quran (biasanya diterapkan di pesantren-pesantren tradisonal). Selanjutnya dengan teknik ‘Mnmonic’ yaitu, dengan menghafal bagian-bagian awal huruf/suku kata dar beberapa poin-poin yang harus di hafal.
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada psikomotor di antaranya metode drill and practice, berlatih dan mempraktekan seperti pada materi melafalkan huruf Al-Quran, berwudlu dan praktek ibadah shalat.
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai (Afektif) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (1) Teknik Indoktrinasi; (2) Teknik Moral Reasoning; (3) Teknik meramalkan konsekuensi; (4) Teknik klarifikasi; (5) Teknik internalisasi. (Noeng Muhadjir, 1998).
Berikut ini dijabarkan prosedur penggunaan teknik-teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai sebagaimana diuraikan Muahimin (2004: 176-179) sebagai berikut.
1. Teknik Indoktrinasi
Prosedur teknik ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Brainwashing, yakni pendidik memulai pendidikan nilai dengan cara merusak tata nilai yang sudah mapan dalam pribadi siswa untuk dikacaukan, sehingga mereka menjadi tidak mempunyai pendirian lagi. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengacaukan pikiran siswa misalnya dengan: Tanya jawab, wawancara mendalam, dsb. Pada saat pikirannya sudah kosong dan pendiriannya sudah hilang maka dilanjutkan dengan tahap kedua.
b. Menanamkan Fanatisme, yakni pendidik berkewajiban menanamkan ide-ide baru yang dianggap benar sehinga nilai-nilai yang ditanamkannya masuk kepada anak tanpa melalui pertimbangan rasioanal yang mapan. Dalam menanamkan fanatisme ini lebih banyak digunakan pendekatan emosional daripada pendekatan rasional. Apabila siswa telah mau menerima nilai-nilai itu secara emosional, barulah ditanamkan doktrin yang sesungguhnya.
c. Penanaman Doktrin, yakni pada taha in pendidik data menggunakan pendekatan emosional ‘keteladanan’. Pada saat penanaman doktrin ini hanya dikenal adanya satu nilai kebenaran yang disajikan, dan tidak ada alternative lain. Semua siswa harus menerima kebenaran itu tanpa harus mempertanyakan hakikat kebenaran itu.
2. Teknik Moral Reasoning
Prosedur teknik ini dilakukan dengan tahap-tahap seperti berikut:
a. Penyajian dilemma moral, pada tahap ini siswa dihadapkan dengan problematic nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang bersifat sederhana sampai kepada yang kompleks. Cara penyajiannya dapat melalui observasi, membaca Koran/majalah, mendengarkan sandiwara, melihat film dsb.
b. Pembagian kelompok diskusi setelah disajikan problematk dilemma moral tersebut, kemudian siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan hasil pengamatan terhadap dilemma moral tersebut.
c. Hasil diskusi kelompok selanjutnya dibawa dalam diskusi kelas dengan tujuan untuk mengadakan klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya.
d. Setelah siswa mendiskusikan secara intensif dan melakukan seleksi nilai yang terpilih sesuai dengan alternatif yang diajukan, selanjutnya siswa mengorganisasi nilai-nilai terpilih tersebut dalam dirinya. Hal ini bisa diketahui lewat pendapat siswa, misalnya melalui karangan-karangannya yang disusun setelah diskusi, atau tindakan follow-up dari kegiatan diskusi itu.
3. Teknik Meramalkan Konsekuensi
Teknik ini sebenarnya merupakan penerapan dari pendekatan rasional dalam mengajarkan nilai. Dalam arti mengadalakan kemampuan berpikir ke depan bagi siswa untuk membuat gambaran tentang hal-hal yang akan terjadi dari penerapan suatu nilai tertentu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Siswa diberikan suatu kasus melalui cerita, membaca majalah, melihat film, atau melihat kejadian konkret di lapangan.
b. Siswa diberi beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan nilai-nilai yang ia lihat, ketahui dan ia rasakan. Pertanyaan itu bersifat memperdalam wawasan tentang nilai yang dilihat, alas an dan kemungkinan yang akan terjadi dari nilai-nilai tersebut, atau menghubungkan kejadian itu dengan kejadian lain yang ada kaitannya dnegan kasus tersebut.
c. Upaya membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam kasus itu dengan nilai lain yang bersifat kontradiktif
d. Kemampuan meramalkan konsekuensi yang akan terjadi dari pemilihan dan penerapan suatu tata nilai tertentu.
4. Teknik Klarifikasi
Teknik ini merupakan salah satu cara untuk membantu anak dalam menentukan nilai-nilai yang akan dipilihnya. Dalam teknik ini dapat dilakukan dengan tiga tahap, yaitu:
a. Tahap pemberian contoh, guru memberikan nila-nilai yang baik dan memberikan contoh penerapannya. hal ini dapat ditempuh dengan cara observasi, melibatkan siswa dalam kegiatan nyata, pemberian contoh langsung, dsb.
b. Tahap mengenal kelebihan dan kekurangan dari nilai yang telah dikenal oleh siswa lewat diskusi, Tanya jawab dan dari kegiatan ini siswa dapat memilih nilai-nilai yang ia anggap paling baik dan benar.
c. Tahap mengorganisasikan tata nilai pada dri sswa. Setelah pemlihan nilai ditentukan maka siswa dapat mengorganisasikan system nila tersebut dalam drnya dan menjadkan nilai itu sebagai diri pribadinya.
5. Teknik Internalisasi
Kalau teknik diatas terbatas pada pemlihan nilai dengan disertai wawasan yang cukup luas dan mendalam maka dalam teknik ini memepunyai sasaran sampai menyatu pada kepribadian siswa, atau sampai pada taraf karakterisasi atau me-watak. Tahap-tahap dari teknik ini, yaitu:
a. Tahap Transformasi Nilai, pada tahap ini guru menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal.
b. Tahap Transaksi Nilai, yakni suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah atau timbale balik. Dalam tahap ini guru tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik atau buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberikan contoh nyata dan siswa harus merespon.
c. Tahap Transinternalisasi, tahap ini penampilan guru dihadapan siswa sudha tidak lagi fisiknya saja melainkan mentalnya juga (kepribadian). Demikian juga siswa merespon kepada guru bukan hanya gerkannya saja, melainkan kepribadiannya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dalam transinteralisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat scara aktif.
Proses dari teknik ini mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, yaitu:
• Menyimak (receiving)
Yakni kegiatan siswa untuk bersedia menerima adanya stimulus yang berupa nilai-nilai baru yang dikembangkan dalam sikap afektifnya.
• Menanggapi (responding)
Yakni kesediaan siswa untuk merespon nilai-nilai yang ia terima dan sampai ke tahap memiliki kepuasan untuk merespon nilai tersebut.
• Memberi nilai (valuing)
Yakni sebagai kelanjutan dari aktifitas merespon nilai hingga siswa mampu memberikan makna baru terhadap nilai-nilai yang muncul dengan kriteria yang diyakini kebenarannya.
• Mengorganisasi nilai (organization of value)
Yakni aktifitas siswa untuk mengatur berlakunya sistem nilai yang ia yakini dalam prilakunya sehingga ia memiliki satu sistem nilai yang berbeda dengan orang lain.
• Karakteristik nilai
Yakni dengan membiasakan nilai-nilai yang diyakini dan telah diorganisir dalam kepribadiannya sehingga nilai tersebut sudah menjadi watak yang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupannya.

B. Jenis Bahan ajar
Bahan adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanakan kegatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahab tulis maupun tidak tertulis.
Dengan bahan ajar, kemungkinan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru atau instructor untuk perencanaan dan implementasi pembelajaran.
Pengelompokan bahan ajar menurut Faculte de psychologie et des sciences de l’Education Universite de Geneve adalah:
1. Media tulis atau cetak
2. Audio visual
3. Elektronik
4. Interaktif

1. Media Tulis atau Cetak
Bahan ajar tulis dan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ini tersusun dengan baik makan bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti:
• Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan guru untuk memudahkan guru untuk menunjukan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari.
• Biaya pengadaanya relative sedikit.
• Bahan tulis cepat digunakan dan dapat dengan mudah dipindah-pindahkan.
• Menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
• Bahan ajar yang baik mampu maotivasi pembaca untuk menandai, mencatat, dan membuat sketsa.
• Bahan tulis dapat dihargai sebagai dokumen yang bernilai besar.
• Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri.

1) Handout
Handout adalah bahan tertulis yang dipersiapkan oleh seseorang guru untuk memperkaya perserta didik. Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memiliki hubungan dengan materi yang diajarkan atau kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik.

2) Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai macam, misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi.
Buku yang baik adalah buku yang ditulis menggunakan bahasa yang baik yang mudah dimengerti, disajikan secara menarik, dilengkapi dengan gampar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga mengambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisnya. Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh perserta didik untuk beajar.
3) Modul
Modul adalah sebuah bahan ajar yang bertujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang segala komponen dasar bahan ajar yang telah disebutkann sebelumnya. Modul harus mengambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahas ayang baik, menarik dan dilengkapi dengan ilustrasi.
4) Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa adalah lembar-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. Tugas-tugas dalam sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik dengan baik apabila tidak dilengkapi oleh buku lain atau buku referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.
5) Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak yang biasanya berupa bagan siklus atau proses atau grafik yang bermakna menunjukan suatu hal tertentu. Wallchart biasanya termasuk kedalam alat bantu mengajar, tetapi dalam hal ini wallchart dapat dijadikan sebagain bahan ajar jika memenuhi syarat memiliki kejelasan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh perserta didik, diajarkan untuk beberapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya.

2. Audio
1) Kaset
Sebuah kaset yang direncanakan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah program yang dapat dipergunakan sebagai bahan ajar. Media kaste dapat menyimpan suara yang memungkinkan untuk dapat didengar secara berulang-ulang oleh peserta didik. Bahan ajar kaset biasanya digunakan pada mata pelajaran bahasa dan juga musik. Bahan ajar kaset tidak dapat berdiri sendiri, sebab bahan ajar kaset membutuhkan bantuan alat seperti tape recorder dab juga lembar sekenario dari guru.

3. Audio Visual
1) Video atau Film
Program video biasanya telah dubuat dengan rancangan lengkap, sehingga setiap akhir dari penanyangan siswa dapat menguasai satu atau leih kompetensi dasar.
Beberapa keuntungan jika menggunakan bahan ajar video adalah:
• Dengan video atau film seseorang dapat belajar secara otodidak
• Sebagai media pandang dan dengar menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang berkali-kali
• Dapat menampilkan sesuatu yang detail dari benda yang bergerak, kompleks yang sulit dilihat oleh mata
• Video dapat dipercepat maupun diperlambat
• Memungkinkan pula untuk membandingkan anatara dua adegan yang berbeda
• Video juga dapat digunakan sebagai alat tampilan nyata dari suatu adegan
Kekurangan dari bahan video adalah proses pembuatannya yang memerlukan waktu relatife lama dan biaya yang besar. Namun demikian jika di produksi oleh oleh suatu lembaga besar yg d produksi dengan jumlah yang besar maka biayanya akan lebih murah, seperti contohnya belajar melalui film.
2) Orang atau Nara Sumber
Orang sebagai sumber belajar dapat juga dikatakan sebagai bahan ajar yang dapat dipandang dan didengar, karena dengan orang seseorang dapat belajar misalnya karena orang itu memiliki suatu katerampilan khusus tertentu. Melalui keterampilannya eseorang dapat dijadikan bahan belajar, bahkan seseorang guru pun dapat dijadikan sebagai bahan ajar. Jika menggunakan seseorang sebagai bahan ajar tidak dapat berdiri sendiri melaikan dikombinasikan dengan alat tulis.

4. Interaktif
Multimedia interaktif adalah kombinasi dari dua atau lebih media(audio, teks, grafik, gambar, animasi dan video) yang oleh penggunannya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah dan atau perilaku alami dari suatu prestasi. Saat ini sudah banyak orang memanfaatkan bahan ajar ini. Karena disamping menarik juga memudahkan bagi pengguna dalam mempelajari suati bidang tertentu. Biasanya bahan ajar multimedia secara lengkap mulai dari petunjuk penggunaanya hinga penilaian.
Bahan ajar interaktif dalam menyiapkannya diperlukan pengatahuan dan keterampilan pendukung yang memadai terutama dalam mengoprasikan peralatan seperti computer, kamera video, dan kamera foto. Bahan ajar interaktif biasanya disajikan dalam bentuk compact disk.

Pengembangan Persiapan Mengajar

PENGERTIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran.
Perencanaan merupakan suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tesebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid.
Secara umum pembelajaran merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sedangkan definisi utuh mengenai perencanaan pembelajaran adalah proses membantu guru secara sistematik dan menganalisis kebutuhan pelajar dan menyusun kemungkinan yang berhubungan dengan kebutuhan.
Perencanaan pembelajaran adalah rencana yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru dan anak agar tujuan dapat tercapai.
Perencanaan pembelajaran mengandung komponen-komponen yang ditata secara sistematis dimana komponen-komponen tersebut saling berhubungan dan saling ketergantungan satu sama lain.

B. KOMPONEN – KOMPONEN PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Rencana pembelajaran yang baik menurut Gagne dan Briggs (1974) hendaknya mengandung tiga komponen yang di sebut anchor point, yaitu: 1) tujuan pengajaran; 2) materi pelajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman belajar; dan 3) evaluasi keberhasilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kenneth D.Moore ( 2001:126 ) bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi komponen:
1. Tujuan
2. Materi
3. Kegiatan belajar mengajar
4. Media dan sumber belajar
5. Evaluasi

1) Tujuan
Tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan pembelajaran. Tidak ada suatu pembelajaran yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu merupakan suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan arah, target akhir dan prosedur yang dilakukan.
Tujuan mempunyai jenjang dari yang luas atau umum sampai kepada yang sempit/khusus. Semua tujuan itu berhubungan antara satu dengan yang lainnya, dan tujuan di atasnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai, maka tujuan di atasnya tidak tercapai pula. Hal ini disebabkan pula tujuan itu beriktnya merupakan turunan dari tujuan sebelumnya. Oleh karena iu, aspek tujuan pembelajaran merupakan yang paling utama, yang harus di rumuskan secara jelas dan spesifik karena menentukan arah.
Tujuan-tujuan pembelajaran harus berpusat pada perubahan perilaku siswa yang di inginkan, dan karenanya harus di rumuskan secara operasional, dapat diukur dan dapat diamati ketercapaiannya.
Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan perlunya tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970 hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa : (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu: (1) memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri; (2) memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; (3) membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; (4) memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.
2) Materi
Materi pelajaran merupakan unsure belajar yang penting mendapam tperhatian oleh guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang” dikonsumsi” oleh siswa. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, dalam hal ini adalah hasil-hasil yang diharapakan misalnya berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman lainnya.
Materi pelajaran yang diterima siswa harus mampu merespons setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart; Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).
Termasuk materi prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat, teorema, atau hubungan antar konsep yang menggambarkan “jika..maka….”, misalnya “Jika logam dipanasi maka akan memuai”, rumus menghitung luas bujur sangkar adalah sisi kali sisi.
Materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah mengoperasikan peralatan mikroskup, cara menyetel televisi. Materi jenis sikap (afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar, semangat bekerja, dsb.
Untuk membantu memudahkan memahami keempat jenis materi pembelajaran aspek kognitif tersebut, perhatikan tabel di bawah ini.
Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan pembelajran. Ditinjau dari pihak siswa bahan ajar itu harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator pencapaian belajar.
3) Kegiatan belajar mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan siswa terlibat dalam sebuah interaksi dalam materi pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu siswalah yang lebih aktif bukan guru. keaktifan siswa tentu mencakup kegiatan fisik dan mental, individual dan kelompok. Oleh karena itu interaksi dikatakan maksimal bila terjadi antara guru dengan semua siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan siswa, siswa dengan materi pelajaran dan media pembelajaran, bahkan siswa dengan dirinya sendiri, namun tetap dalam kerangka mencapai tujuan yang telah di tetapkan bersama.
Agar memperoleh hasil optimal, sebaiknya guru memperhatikan perbedaan individual siswa, baik aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Ketiga aspek ini diharapkan memberikan informasi kepada guru, bahwa setiap siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal, sekalipun dalam tempo yang berlainan.
Guru harus mampu membangun suasana belajar yang kondusif sehingga siswa mampu belajar mandiri. Guru juga harus mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai salah satu sumber yang penting dalam kegiatan eksplorasi.
4) Media dan sumber belajar
Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Media menurut AECT adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Sedangkan gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar
Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.
Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun penyajian materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber balajar yang ada.
Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.
Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan teus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar.
Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dawyer (1967) berpendapat bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika menggunakan bahan-bahan audio visual yang mendekati realitas.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana materi pelajaran terdapat. Menurut Nasution (2000) sumber belajar dapat berasal dari masyarakat dan kebudayaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan siswa. Pemanfaantan sumber-sumber belajar tersebut tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Roestiyah N.K. (1989) mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah:
Manusia (dalam keluarga, sekolah dan masyarakat);
Buku/perpustakaan;
Media massa(majalah, surat kabar, radio, tv dan lain-lain);
Lingkungan alam, social dan lain-lain;
Alat pelajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol dan lain-lain);
Museum (tempat penyimpanan benda-benda kuno).
5) Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Metode belajar yang mampu membangkitkan motif, minat atau gairah belajar murid dan menjamin perkembangan kegiatan kepribadian murid adalah metode diskusi.
Metode diskusi merupakan suatu cara mengajar yang bercirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pertanyaan atau problem. Di mana para anggota diskusi dengan jujur berusaha mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Dalam metode diskusi guru dapat membimbing dan mendidik siswa untuk hidup dalam suasana yang penuh tanggung jawab, msetiap orang yang berbicara atau mengemukakan pendapat harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang dapat diperanggung-jawabkan. Jadi bukan omong kosong, juga bukan untuk menghasut atau mengacau suasana. Menghormati pendapat orang lain, menerima pendapat yang enar dan menolak pendapatb yang salah adalah ciri dari metode yang dapat dighunakan untuk mendidik siswa berjiwa demokrasi dan melatih kemampuan berbicara siswa.
Agar suasana belajar siswa aktif dapat tercapai, maka diskusi dapat menggunakan variasi model-model pembelajaran menarik dan memotivasi siswa. Dari sekan banyak model pembelajaran yang ada, model pembelajaran Zigsaw cocok untuk digunakan dalam metode diskusi. Model pembelajaran Zigsaw membantu murid untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus siswa mampu menjadi nara sumber bagi satu sama yang lain.
Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dan materi yang baik belum tentu memberikan hasil yang baik tanpa memilih dan menggunakan metode yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran.
Metode, adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan (Winamo Surakhmad).
Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
6) Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk menetukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan criteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan.
Berdasarkan pengertian ini, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan lebih lanjut, yaitu:
Evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil (produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi. Membahas tentang evaluasi berarti mempelajari bagaimana proses pemberian pertimbangan mengenai kualitas sesuatu. Gambaran kualitas yang dimaksud merupakan konsekuensi logis dari proses evaluasi yang dilakukan. Poses tersebut tentu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, dalam arti terencana, sesuai dengan prosedur dan prinsip serta dilakukan secara terus menerus.
Tujuan evaluasi adalah untuk menentukan kualitas sesuatu, terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti. S. Hamid Hasan (1988) secara tegas membedakan kedua istilah tersebut sebagai berikut:
Pemberian nilai dilakukan apabila seorang evaluator memberikan pertimbangannya mengenai evaluan tanpa menghubungkannya dengan sesuatu yang bersifat dari luar. Jadi, pertimbangan yang diberikan sepenuhnya berdasarkan apa evaluan itu sendiri…. Sedangkan arti, berhubungan dengan posisi dan peranan evaluan dalam suatu konteks tertentu…. Tentun saja kegiatan evaluasi yang komprehensif adalah yang meliputi baik proses pemberian keputusan tentang nilai dan proses keputusan tentang arti, tetapi hal ini tidak berarti bahwa suatu kegiatan evaluasi harus selalu meliputi keduanya.
Pemberian nilai dan arti ini dalam bahasa yang dipergunakan Scriven (1967) adalah formatif dan sumatif. Jika formatif dan sumatif merupakan fungsi evaluasi, maka nilai dan arti adalah hasil kegiatan yang dilakukan oleh evalusi.
Dalam proses evaluasi harus ada pemberian pertimbangan (judgement). Pemberian pertimbangna ini pada dasarnya merupakan konsep dasar evaluasi. Melalui pertimbangan inilah ditentukan nilai dan arti/ makna (worth and merit) dari sesuatu yang sedang di evaluasi. Tanpa pemberian pertimbangan, suatu kegiatan bukanlah termasuk kategori kegiatan evaluasi.
Pemberian pertimbangan tentang nilai dan arti haruslah berdasarkan criteria tertentu. Tanpa criteria yang jelas, pertimbangan nilai dan arti yang diberikan bukanlah suatu proses yang dapat diklasifikasikan sebagai evaluasi.
Evaluasi menurut Wand dan Brown (dalam Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, 2007), evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Rumusan yang bersifat operasional di kemukakan Roestyah (1989) bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya mengenai kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa guna mendorong atau mengembangkan kemampuan belajar.
Aspek evaluasi merupakan aspek yang penting, yang berguna untuk mengukur dan menilai seberapa jauh tujuan pembelajaran telah tercapai atau hingga mana terdapat kemajuan belajar siswa, dan bagaimana tingkat keberhasilan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut. Apakah tujuan yang telah dirumuskan dapat di capai atau tidak, apakah materi yang telah diberikan dapat dikuasai atau tidak, dan apakah penggunaan metode dan alat pembelajaran tepat atau tidak.
Guru harus melakukan evaluasi terhadap hasil tes dan menetapkan standar keberhasilan. Sebagai contoh, jika semua siswa sudah menguasai suatu kompetensi dasar, maka pelajaran dapat dilanjutkan dengan materi berikutnya, dengan catatan guru memberikan perbaikan (remidial) kepada siswa yang belum mencapai ketuntasan, dan pengayaan bagi yang sudah. Evaluasi terhadap hasil belajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar. Dari hasil evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi dasar, materi, atau indicator yang belum mencapai ketuntasan. Dengan mengevaluasi hasil belajar, guru akan mendapatkan manfaat yang besar untuk melakukan program perbaikan yang tepat. Jika ditemukan sebagian siswa gagal, perlu dikaji kembali apakah instrument penilaiannya terlalu sulit, apakah instrument penilaiannya sudah sesuai dengan indikatornya, ataukah cara pembelajarannya (metode, media, teknik) yang digunakan kurang tepat.

C. Model persiapan mengajar (ROPES dan Satpel)

a) Model Pembelajaran ROPERS
1. Pengertian model pembelajaran ROPERS
Hunt tidak mengkategorikan perencanaan pengajaran menjadi rencana semester, mingguan, dan harian. Akan tetapi Hunts menyebutnya rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan mengajar yang disebutnya ROPES (Review, Overview, Presentation, Exercise, Summary) (Anonim).
2. Tujuan model pembelajaran ROPERS
Tujuan dari model ini agar guru itu membuat rencana pengajaran yang terstruktur dan prosedur yang sesuai sehingga siswa itu belajarnya secara bertahap (Anonim).
3. Sintak model pembelajaran ROPERS
Langkah-langkah ROPES ini sebagai berikut:
1. Review, kegiatan ini dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit, yakni mencoba mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari bahan ajar dengan melihat pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki oleh siswa dan diperlukan sebagai prerequisite untuk memahami bahan yang disampaikan hari itu. Hal ini diperlukan dengan didasarkan atas:
a. Guru bias memulai pelajaran, jika perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari bahan baru sudah mulai tumbuh.
b. Guru hendak memulai pelajaran, jika interaksi antara guru dengan siswa sudah mulai terbentuk
c. Guru dapat memulai pembelajaran jika siswa-siswa sudah memahami hubungan bahan ajar sebelumnya dengan bahan ajar baru yang dipelajari hari tu.
d. Guru harus yakin dan tahu betul jika siswa sudah siap menerima pelajaran baru. Jika siswa belum menguasai pelajaran sebelumnya, maka guru harus dengan bijak memberi kesempatan kepada siswa untuk memahaminyaterlebih dahulu atau mencerahkan melalui pemberian tugas, penjelasan, bimbingan, tutor sebaya, dan baru bergerak pada materi sebelumnya. Apabila terjadi akumulasi bahan ajar yang tertunda, maka harus dicarikan waktu tambahan, karena lebih baik menunda bahan ajar baru daripada menumpuk ketidakpahaman siswa.
2. Overview, sebagaimana review, overview dilakukan tidak terlalu lama berkisar antara 2 sampai 5 menit. Guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu dengan menyampaikan isi (content) secara singkat dan strategi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pandangannya atas langkah-langkah pembelajaran yang hendak ditempuh oleh guru sehingga berlangsungnya proses pembelajaran bukan hanya milik guru semata, akan tetapi siswa pun ikut merasa senang dan merasa dihargai keberadaannya.
3. Presentation, tahap ini merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar, karena di sini guru sudah tidak lagi memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah masuk pada proses telling, showing, dan doing. Proses tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa tentang pelajaran yang mereka dapatkan. Hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Mohammad Syafe’I yaitu bahan-bahan yang dapat mengembangkan pikiran, perasaan dan keterampilan atau yang lebih dikenal dengan istilah 3 H, yaitu: Head, Heart, dan Hand. Apalagi jika kompetensinya memasuki wilayah afektif dan psikomotor, strategi pembelajaran yang menekankan pada doing atau hand menjadi sangat penting, karena penerimaan, tanggapan dan penanaman nilai akan otomatis berjalan dalam proses belajar mengajar. Semakin bervariasi strategi pembelajaran yang digunakan, semakin baik proses dan hasil yang dicapai, karena tidak menjadikan siswa jenuh, melainkan mengantarkan mereka menikmati proses pembelajaran dengan suasana asyik dan menyenangkan.
4. Exercise, yakni suatu proses untuk menberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka pahami. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga hasil yang dicapai lebih bermakna. Oleh karena itu guru harus mempersiapkan rencana pembelajaran tersebut dengan baik melalui scenario yang sistematis. Misalnya untuk sains bias dilakukan praktek di laboratorium, untuk bahasa, membaca al-Qur’an, mengkafani mayat biasa dilakukan di kelas, jika tidak, sulit bagi guru untuk memberikan pengalaman-pengalaman manipulatif melalui berbagai praktikum di sekolah. Disamping itu pula guru harus mempersiapkan perencanaan pengajaran bukan hanya bahan ajar saja, tetapi pengalaman belajar siswa yang harus diberikan lewat peragaan-peragaan, bermain peran dan sejenisnya yang harus ditata berdasarkan alokasi waktu antara penjelasan, asignment (tugas-tugas), peragaan dan lain sebagainya.
5. Summary, dimaksudkan untuk memperkuat apa yang telah mereka pahami dalam proses pembelajaran. Hal ini sering tertinggal oleh guru karena mereka disibukkan dengan presentase, dan bahkan mungkin guru tidak pernah membuat summary (kesimpulan) dari apa yang telah mereka ajarkan.
4. Kelemahan model pembelajaran ROPERS
Kelemahan dari model yang dikemukakan Huns ini ialah tidak mencantumkan proses evaluasi. Yang mana proses ini sebenarnya merupakan kegiatan yang penting dilakukan, selain untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi siswa juga dapat dijadikan infut bagi guru guna perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya (Anonim).

5. Format Persiapan Pembelajaran Model RPP (Model Ropes) Oleh Hunts
A. Identitas Rencana Pembelajaran
Mata Pelajaran : …………………………………………………….
Materi Pokok : ………….……………………………………………
Kelas/Smt : ……… ……………………………………………..……
Pertemuan : ………………………………………………………….
Waktu : ….………………………………..……………………………
B. Kemampuan Dasar/Tujuan
Standar Kompetensi :
……………………………………………………………………………………………..……
Kompetensi Dasar :
……………….…………………………………………………………………………………..
Indikator :
…………………………………………………………………………………………….
C. Prosedur dan Materi
1. Review ………………………………………….……………………………………………..
………………………………………………………………………………….…………………
2. Overview ……………………………….…………………………………………..………..
……………………………………………………………………………………………………
3. Presentation:
Telling …………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………..……………
Showing ……………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………….……
Doing ………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………..……
atau dengan kata lain, head heart and hand.
4. Exercise ……………………………………………………………………………..……..
…………………………………………………………………………………………………
5. Summary ………………………………………………………………………..…………
…………………………………………………………………………..…………………….
D. Bahan/Media/Alat
……………………………………………………………………………………………
E. Penilaian, (instrument dan prosedur yang digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa misalnya: tes tulis, kinerja, produk, proyek, portofolio serta tindak lanjut hasil penilaian, misalnya remedial, pengayaan atau percepatan).
…………………………………….…………………………………………

b) Model Pembelajaran Satuan Pelajaran
1. Pengertian Model Satuan Pelajaran
Pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaanya mencapai hasil yang diharapkan. Langkah-langkah tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk perencanaan mengajar. Proses penyusunan perencanaan pengajaran memerlukan pemikiran-pemikiran sistematis untuk memproyeksikan/memperkirakan mengenai apa yang akan dilakukan dalam waktu melaksanakan pengajaran.
Rencana mengajar atau persiapan mengajar atau lebih dikenal dengan satuan pelajaran adalah program kegiatan belajar mengajar dalam satuan terkecil (Sudjana, 2002: 137). Hal senada juga dikemukakan oleh Syaodih, (1988:218) bahwa guru mengembangkan perencanaan dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, satu minggu, atau beberapa jam saja. Untuk satu tahun dan semester disebut sebagai program unit, sedangkan untuk beberapa jam pelajaran disebut program satuan pelajaran, yang dalam implementasi kurikulum 2004 memiliki komponen kompetensi dasar, materi standar, prosedur pembelajaran/pengalaman belajar, metode dan evaluasi berbasis kelas, serta bahan/alat yang digunakan.
2. Tujuan Model Satuan Pelajaran
Dalam model ini mempunyai tujuan agar guru dapat menjalankan proses pembelajaran yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, secara sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran adalah sebagai berikut:
a. Identitas mata pelajaran (nama pelajaran, kelas, semester, dan waktu atau banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
b. Kompetensi dasar dan indicator yang hendak dicapai atau dijadikan tujuan dapat dikutip/diambil dari kurikulum dan hasil belajar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
c. Materi pokok (beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar).
d. Media (yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran).
e. Strategi pembelajaran/scenario/tahapan-tahapan proses belajar mengajar yaitu
kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi.
3. Sintak Model Satuan Pelajaran
Tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran meliputi :
1) Kegiatan awal
Kegiatan pendahuluan dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa, memusatkan perhatian, dan mengetahui apa yang telah dikuasai siswa berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari.
Kegiatan pendahuluan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain:
a) Melaksanakan apersepsi atau penilaian kemampuan awal
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan awal yang dimiliki siswa. Seorang guru perlu menghubungkan materi pelajaran yang telah dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari siswa dan tidak mengesampingkan motivasi belajar terhadap siswa.
b) Menciptakan kondisi awal pembelajaran melalui upaya:
– Menciptakan semangat dan kesiapan belajar melalui bimbingan guru kepada siswa.
– Menciptakan suasana pembelajaran demokratis dalam belajar, melalui cara dan teknik yang digunakan guru dalam mendorong siswa untuk berkreatif dalam belajar dan mengembangkan keunggulan yang dimilikinya.
2) Kegiatan inti
Kegiatan inti adalah kegiatan utama untuk menanamkan, mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan. Kegiatan inti setidaknya mencakup: 1) penyampaian tujuan pembelajaran; 2) penyampaian materi/bahan ajar dengan menggunakan: pendekatan dan metode, sarana dan alat/media yang sesuai dll.; 3) pemberian bimbingan bagi pemahaman siswa; 4) melakukan pemeriksaan/pengecekan tentang pemahaman siswa.
Dalam langkah ini, siswa dikelompokkan menjadi tiga kelompok pembelajaran, yaitu:
v Pembelajaran klasikal yang digunakan apabila materi pembelajaran lebih bersifat fakta, atau formatif terutama ditujukan untuk memberikan informasi atau sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Sehingga cenderung metode ceramah dan Tanya jawab akan banyak digunakan.
v Pembelajaran kelompok digunakan apabila materi pembelajarannya lebihmengembangkan konsep/sub-pokok bahasan yang sekaligus mengembangkan aktivitas social, sikap, nilai, kerjasama, dan aktivitas dalam pemecahan masalah melalui kelompok belajar siswa. Kegiatan guru akan lebih banyak mengawasi dan memantau kelompok belajar, sehingga setiap siswa dalam kelompok turut berpartisipasi.
v Kegiatan belajar individual, artinya setiap anak yang belajar di kelas mengerjakan atau melakukan kegiatan belajar masing-masing. Kegiatan belajar tersebut mungkin sama untuk setiap siswa, mungkin pula berbeda. Dalam pembelajaran individual ini setiap siswa dituntut untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Implikasi dari pembelajaran individual ini, guru harus banyak memberikan perhatian dan pelayanan secara individual, sebab setiap individu berbeda kemampuannya. Kegiatan pembelajaran individual pun dapat digunakan apabila ingin membantu proses belajar mengajar yang mengarah pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu untuk melaksanakan kegiatan pengayaan dan perbaikan hasil proses belajar mengajar.
3) Penutup
Kegiatan penutup ini adalah kegiatan yang memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Kesimpulan ini dibuat oleh guru dan atau bersama-sama dengan siswa. Kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut ini adalah:
§ Melaksanakan penilaian akhir dan mengkaji hasil penilaian
§ Melaksanakan kegiatan tindak lanjut dengan alternative kegiatan di antaranya: memberikan tugas atau latihan-latihan, menugaskan mempelajari materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi/bimbingan belajar.
§ Mengakhiri proses-proses pembelajaran dengan menjelaskan atau memberi tahu materi pokok yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.
f. Menentukan jenis penilaian dan tindak lanjut. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan pembelajaran yang telah dilaksanakan dan alternative tindakan yang akan dilakukan. Beragam jenis penilaian yang dapat digunakan misalnya tes tulis, kinerja, produk, proyek/penguasaan dan lain sebagainya tergantung dari aspek apa yang hendak diukur. Teknik penyampaiannya dapat diajukan kepada siswa baik secara lisan maupun tertulis.
g. Sumber bahan (yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai dicantumkan).

4. Kelemahan Model Satuan pelajaran
Dalam model ini memiliki kelemahan yaitu dalam penilaian itu harus sampai semua mata pelajaran itu selesai barulah mengadakan evaluasi akhir.
5. Format Persiapan Pembelajaran (Model Satuan Pelajaran)
I. Identitas Mata Pelajaran
1. Mata Pelajaran : …………………………
2. Materi Pokok : …………………………
3. Kelas/Semester : ………………….………
4. Pertemuan minggu ke : …………………………
5. Waktu : .…………………………..
II. Kemampuan Dasar/Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar:
…………………………………………………………………
2. Indikator:
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
III. Materi Pembelajaran
Uraian materi pokok
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
IV. Media/Alat Pembelajaran
Alat-alat :
……………………………………………………………..………
……………………………………………..………………………
V. Strategi Pembelajaran/Tahapan Pembelajaran
No.
Kegiatan Belajar
Waktu
(menit)
Aspek Life skill yang dikembangkan
1. Pendahuluan
a. Prasyarat:
menanyakan tentang …
b. Motivasi:
Mengapa manusia
memerlukan ..
Contoh:
– Kesadaran diri
(kesadaran eksistensi
diri dan kesadaran
potensi diri)
2. Kegiatan inti
– Kecakapan social
(kecakapan kerjasama)
– Kecakapan akademik
(melakukan percobaan)
– Dst
3. Penutup
– Menyimpulkan
– Pemberian tugas pokok
bahasan berikutnya
– Kesadaran potensi diri
– Kecakapan akademik
VI. Penilaian dan Tindak Lanjut
§ Prosedur Penilaian:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
§ Jenis Penilaian
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
§ Alat Penilaian (Cantumkan alat penilaian yang digunakan secara utuh, misalnya soal, tugas, atau lembar observasi)
VII. Sumber Bacaan
…………………………………….…………………..……………
………………………………………………………………………
c) Perbedaan Antara Model ROPERS dan Model Satuan Pelajaran
Perbadaan dari kedua model ini yaitu pada model ROPERS itu tidak mengkategorikan perencanaan pengajaran menjadi rencana semester, mingguan, dan harian. Akan tetapi di katekorikan menjadi rencana prosedur pembelajaran sebagai persiapan mengajar sedangkang model satuan pelajatan itu proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaanya mencapai hasil yang diharapkan.

Silabus

PENGANTAR PENGEMBANGAN SILABUS
A. Pengertian Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
B. Prinsip Pengembangan Silabus
1. Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3. Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai
Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
C. Unit Waktu Silabus
1. Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.
2. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran lain yang sekelompok.
3. Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum. Bagi SMK/MAK menggunakan penggalan silabus berdasarkan satuan kompetensi.
D. Pengembang Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendikan.
1. Disusun secara mandiri oleh guru apabila guru yang bersangkutan mampu mengenali karakteristik peserta didik, kondisi sekolah/madrasah dan lingkungannya.
2. Apabila guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah/madrasah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah tersebut.
3. Di SD/MI semua guru kelas, dari kelas I sampai dengan kelas VI, menyusun silabus secara bersama. Di SMP/MTs untuk mata pelajaran IPA dan IPS terpadu disusun secara bersama oleh guru yang terkait.
4. Sekolah/Madrasah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah-sekolah/madrasah-madrasah lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah/madrasah-madrasah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
5. Dinas Pendidikan/Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.

E. Langkah-langkah Pengembangan Silabus
1. Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI;
b. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;
c. keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

2. Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran
Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
a. potensi peserta didik;
b. relevansi dengan karakteristik daerah;
c. tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;
d. kebermanfaatan bagi peserta didik;
e. struktur keilmuan;
f. aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
g. relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
h. alokasi waktu.

3. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
a. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
b. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

b Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
5. Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
6. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.
7. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
F. Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Pengembangan Silabus
• Alokasi waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sebuah tema
• Pencapaian kompetensi setiap aspek saling terkait, sehingga tidak memungkinkan untuk dipisahkan.
• Untuk memudahkan keterbacaan dan korelasi antara komponen-komponen silabus, maka format silabus dibuat sesuai dengan contoh/model silabus

• Kegiatan pembelajaran dalam silabus bahasa asing diharapkan dapat mewujudkan akulturasi budaya positif dari kedua pengguna bahasa
• Aplikasi kegiatan pembelajaran hendaknya kontekstual, dan memasukkan unsur-unsur lingkungan serta budaya sesuai dengan kondisi setempat.
• Uraian materi yang disajikan merupakan rangkaian materi yang harus dicapai setiap aspek.

G. Contoh Model Silabus
Dalam menyusun silabus dapat menggunakan salah satu format yang sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. Pada dasarnya ada dua jenis, yaitu jenis kolom (format 1) dan jenis uraian (format 2). Dalam menyusun format urutan KD, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator dan seterusnya dapat ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan, sejauh tidak mengurangi komponen-komponen dalam silabus.

Konsep dasar Perencanaan Pembelajaran

A.   Definisi Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Uno, 2008:2). Sedangkan yang dimaksud pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “apa yangdipelajari siswa”. Adapun perhatian terhadap apa yang dipelajari siswa merupakan bidang kajian dari kurikulum, yakni mengenai apa isi pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar dapat tercapainya tujuan. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar tercapai tujuan tersebut. Dalam kaitan ini hal-hal yang tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan adalah bagaimana cara menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.

Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media, pendekatan dan metode pembelajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Berdasarkan uraian di atas, konsep perencanaan pengajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:

1.      Perencanaan pengajaran sebagai teknologi

2.      Perencanaan pengajaran sebagai suatu sistem

3.      Perencanaan pengajaran sebagai sebuah

4.      Perencanaan pengajaran sebagai sains (science)

5.      Perencanaan pengajaran sebagai sebuah proses

6.      Perencanaan pengajaran sebagai sebuah realitas

Dengan mengacu kepada berbagai sudut pandang tersebut, maka perencanaan program pengajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pengajaran yang dianut dalam kurikulum. Penyusunan program pengajaran sebagai sebuah proses, disiplin ilmu pengetahuan, realitas, sistem dan teknologi pembelajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran berjalan dengan efektif dan efisien. Kurikulum khususnya silabus menjadi acuan utama dalam penyusunan perencanaan program pengajaran, namun kondisi sekolah/madrasah dan lingkungan sekitar, kondisi siswa dan guru merupakan hal penting jangan sampai diabaikan.

 

B.   Dasar Perlunya Perencanaan Pembelajaran

Perlunya perencanaan pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas, dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi berikut:

1.   untuk memperbaiki kualitas pembelajaran perlu diawali dengan peren­canaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya desain pembe­lajaran;

2.   untuk merancang suatu pembelajaran perlu menggunakan pendekatan sistem;

3.    perencanaan desain pembelajaran diacukan pada bagaimana seseorang belajar;

4.    untuk merencanakan suatu desain pembelajaran diacukan pada siswa secara perseorangan;

5.    pembelajaran yang dilakukan akan bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran, dalam hal ini akan ada tujuan langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran;

6.    sasaran akhir dari perencanaan desain pembelajaran adalah mudahnya siswa untuk belajar;

7.    perencanaan pembelajaran harus melibatkan semua variabel pembelajaran;

8.   inti dari desain pembelajaran yang dibuat adalah penetapan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

 

C.       Manfaat Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting dalam memandu guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya. Perencanaan pembelajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses pembelajaran berlangsung.

Terdapat beberapa manfaat perencanaan pembelajaran dalam proses belajar mengajar yaitu:

1.    sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan;

2.    sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan;

3.    sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur murid;

4.    sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja;

5.    untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja;

6.    untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat, dan biaya.

Sedangkan penerapan konsep dan prinsip pembelajaran berbasis kompetensi diharapkan bermanfaat untuk:

1.    Menghindari duplikasi dalam memberikan materi pelajaran.

Dengan menyajikan materi pelajaran yang benar-benar relevan dengan kompetensi yang ingin dicapai, dapat dihindari terjadinya duplikasi dan pemberian materi pelajaran yang terlalu banyak.

2.   Mengupayakan konsistensi kompetensi yang ingin dicapai mengajarkan suatu mata pelajaran. Dengan kom­petensi yang telah ditentukan secara tertulis, siapapun yang mengajarkan mata pelajaran tertentu tidak akan bergeser atau menyimpang dari kompetensi dan materi yang telah ditentukan.

3.   Meningkatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kecepatan, dan kesempurnaan siswa.

4.    Membantu mempermudah pelaksanaan akreditasi. Pelaksa­naan akreditasi akan lebih dipermudah dengan menggunakan tolok ukur standar kompetensi

5.    memperbarui sistem evaluasi dan laporan hasil belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis kompetensi, keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan berdasar pencapaian kompetensi atau subkompetensi tertentu, bukan didasarkan atas perbandingan dengan hasil belajar siswa yang lain.

6.    Memperjelas komunikasi dengan siswa tentang tugas, kegiatan, atau pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan cara yang digunakan untuk menentukan keberhasilan belajarnya.

7.    Meningkatkan akuntabilitas publik. Kompetensi yang telah disusun, divalidasikan, dan dikomunikasikan kepada publik, sehingga dapat digunakan untuk mempertanggung-jawabkan kegiatan pembelajaran kepada publik.

8.    Memperbaiki sistem sertifikasi. Dengan perumusan kom­petensi yang lebih spesifik dan terperinci, sekolah/madrasah dapat mengeluarkan sertifikat atau transkrip yang menyata­kan jenis dan aspek kompetensi yang dicapai.

 

D.   Prinsip-prinsip Umum tentang Mengajar

Prinsip-prinsip umum yang harus dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut.

1.    Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa. Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari bahan yang akan diajarkan. Oleh karena itu, tingkat kemampuan siswa sebelum proses belajar mengajar berlangsung harus diketahui guru. Tingkat kemampuan semacam ini disebut entry behavior. Entry behaviuor dapat diketahui di antaranya dengan melakukan pretes. Hal ini sangat penting agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

2.   Pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis. Bahan pelajaran yang bersifat praktis berhubungan dengan situasi kehidupan. Hal ini dapat menarik minat, sekaligus dapat memotivasi belajar.

3.   Mengajar harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa.

4.   Kesiapan (readiness) dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar. Kesiapan adalah kapasitas (kemampuan potensial) baik bersifat fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu.

5.   Tujuan pengajaran harus diketahui siswa. Apabila tujuan pengajaran diketahui, siswa mempunyai motivasi untuk belajar. Agar tujuan mudah diketahui, harus dirumuskan secara khusus.

6.   Mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar. Para ahli psikologi merumuskan prinsip bahwa belajar itu harus bertahap dan meningkat. Oleh karena itu, dalam mengajar haruslah mempersiapkan bahan yang bersifat gradual, yaitu dari sederhana kepada yang kompleks (rumit); dari konkret kepada yang abstrak; dari umum (general) kepada yang kompleks; dari yang sudah diketahui (fakta) kepada yang tidak diketahui (konsep yang bersifat abstrak); dengan menggunakan prinsip induksi ke induksi atau sebaliknya, dan sering menggunakan reinforcement (penguatan).

 

E.   Tipe-tipe Belajar

Dalam praktik pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi merupakan tindakan kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori belajar pun cocok untuk segala situasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang berbeda dan cocok untuk situasi tertentu. Robert M. Gagne mencoba melihat berbagai teori belajar dalam satu kebulatan yang Baling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurut Gagne, belajar mempunyai delapan tipe. Kedelapan tipe 1tu bertingkat, ada hierarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya.

Tipe belajar dikemukakan oleh Gagne pada hakikatnya merupakan prinsip umum baik dalam belajar maupun mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajar pun terdapat tingkatan sebagaimana tingkatan belajar di atas. Kedelapan tipe itu adalah sebagai berikut.

 

1.    Belajar Isyarat (Signal Learning)

Belajar isyarat mirip dengan conditioned respons atau respons bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dengan telunjuk dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respons. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespons suatu isyarat. Jadi, respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur, dan emosional.

2.    Belajar Stimulus-Respons (Stimulus Respons Learning)

Tipe belajar S–R, respons bersifat spesifik. 2 x 3 = 6 adalah bentuk suatu hubungan S–R. Mencium bau masakan sedap, keluar air liur, itu pun ikatan S–R. Jadi, belajar stimulus respons sama dengan teori asosiasi (S–R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar stimulus respons.

3.    Belajar Rangkaian (Chaining)

Rangkaian atau rantai dalam chaining adalah semacam rangkaian antara berbagai S–R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik; seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan-minum-merokok; atau gerakan verbal seperti selamat-tinggal, bapak-ibu.

4. Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)

Tipe belajar ini adalah mampu mengaitkan suatu yang bersifat verbalisme kepada sesuatu yang sudah dimilikinya. Misal “pyramids itu berbangun limas” adalah contoh tipe belajar asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa piramida berbentuk limas kalau ia mengetahui berbagai bangun, seperti balok, kubus, dan kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu, yang satu mengikuti yang lain.

5.    Belajar Diskriminasi (Discrimination Learning

Tipe belajar ini adalah pembedaan terhadap berbagai rangkaian seperti membedakan berbagai bentuk wajah, hewan, tumbuhan, dan lain-lain.

6.    Belajar Konsep (Concept Learning)

Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil memuat tafsiran terhadap fakta atau realita, dan hubungan antara berbagai fakta.

7.    Belajar Aturan (Rule Learning)

Belajar aturan adalah lebih meningkat dari tipe belajar konsep. Dalam belajar aturan, seseorang dipandang telah memiliki berbagai konsep yang dapat untuk mengemukakan berbagai formula, hukum, atau dalil.

8.    Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Tipe belajar yang terakhir adalah memecahkan masalah. Tipe belajar ini dapat dilakukan oleh seseorang apabila dalam dirinya sudah mampu meng­aplikasikan berbagai aturan yang relevan dengan masalah yang dihadapinya. Dalam memecahkan masalah diperlukan waktu yang cukup, bahkan ada yang memakan waktu terlalu lama. Juga sering kali harus melalui berbagai langkah, seperti mengenal tiap unsur dalam masalah itu. Dalam segala langkah diperlukan pemikiran sehingga dalam memecahkan masalah akan diperoleh hasil yang optimal.

Kedelapan tipe belajar di atas tampaknya para ahli sepakat. Tipe belajar yang memiliki hierarki. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar selanjutnya. Sebaliknya tiap tipe belajar memerlukan penguasaan pada tipe belajar di tingkat bawahnya. Belajar memecahkan masalah misalnya harus menguasai sejumlah aturan yang relevan, seterusnya untuk belajar aturan perlu penguasaan beberapa konsep yang digunakan pada aturan.

Dalam kaitan dengan perencanaan pengajaran, tipe belajar ini perlu mendapat perhatian, sebab hal ini menjadi salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan pengajaran yang diberikan kepada siswa. Dengan kata lain, agar siswa belajar mencapai taraf yang lebih tinggi, diperlukan kemampuan guru dalam menerapkan prinsip-prinsip sebagaimana yang telah diuraikan di atas.

 

 

SUMBER MATERI

 

Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Uno, Hamzah B. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

http://deri.web.id/

http://rusmiatyputri.blogspot.com

PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA JEPANG

PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA JEPANG
SILABUS MK PERENCANAAN PENGAJARAN
BAHASA JEPANG
JP 502/ 2 SKS

DESKRIPSI MATA KULIAH
… Mata kuliah ini merupakan mata kuliah mandiri untuk mahasiswa tingkat tiga semester lima. Materi yang akan dipelajari pada mata kuliah ini berkenaan dengan perencanaan pengajaran antara lain; pembuatan silabus, persiapan pengajaran, penilaian, dan latihan mengajar.
EVALUASI
Jumlah pertemuan dalam satu semester berjumlah 16 kali pertemuan di dalamnya termasuk UTS dan UAS. Kehadiran tidak kurang dari 80% dari jumlah pertemuan tatap muka di kelas (14 kali pertemuan). Kehadiran tiap pertemuan tidak lebih dari 15 menit setelah jam masuk. Apabila lebih dari 15 menit boleh masuk tetapi dianggap tidak hadir. Kemudian 3 kali terlambat akan dihitung 1 tidak hadir. Penilaian meliputi: Tugas, keaktifan di kelas, UTS dan UAS (mogi jugyou) dengan presentase sebagai berikut: Tugas(keaktifan di kelas):25%; UTS:25%; UAS:50%.

MATERI PER PERTEMUAN
1. Selasa, 13-9-2011
Materi : *Silabus
*Need analisis
*Tata tertib perkuliahan
Sumber : Silabus yang dibuat dosen

2. Selasa, 20-9-2011
Materi : Konsep Dasar Perencanaan Pengajaran
1. Pengertian
2. Dimensi perencanaan
3. Manfaat perencanaan
4. Desain pembelajaran berbasis kompetensi
Sumber : Perencanaan Pembelajaran

3. Selasa, 27-9-2011
Materi : Silabus
1. Pengertian silabus
2. Isi Silabus
3. Manfaat Silabus
4. Pengembangan Silabus
Sumber : Perencanaan Pembelajaran

4. Selasa, 4-10-2011
Materi : Pengembangan persiapan mengajar
1. Prinsip-prinsip Persiapan mengajar
2. Komponen-komponen persiapan mengajar (membuat RPP/Satpel)
3. Model persiapan mengajar (ROPES dan Satpel)
Sumber : Perencanaan Pembelajaran

5. Selasa,11-10-2011
Materi : Pengembangan Bahan Ajar
1. Prosedur pembelajaran (pendekatan, metode, teknik)
2. Jenis bahan ajar (cetak, audio, audiovisual, bahan ajar interaktif)
Sumber : Perencanaan Pembelajaran

6. Selasa, 18-10-2011
Materi : Sistem Penilaian
1. Penilaian kelas
2. Ragam penilaian kelas (tertulis, benar-salah, menjodohkan, jawaban singkat, uraian objektif, uraian bebas, pertanyaan lisan,
Sumber : Perencanaan Pembelajaran

7. Selasa, 25-10-2011
Materi : 1. Porfolio
2. Feedback keseluruhan
Sumber : Perencanaan Pembelajaran

8. Selasa, 1-11-2011
UTS

9. Selasa, 8-11-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

10. Selasa, 15-11-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

11. Selasa, 22-11-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

12. Selasa, 29-11-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

13. Selasa, 6-12-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

14. Selasa, 13-12-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

15. Selasa, 20-12-2011
Materi : Mogi jugyou
Sumber : Mahasiswa

16. Selasa, 27-12-2011
Materi : Laporan mogi jugyou
Sumber : dosen

Referensi:
Majid, Abdul (2009). Perencanaan Pembelajaran. PT.Remaja Rosdakarya.Bandung Mendler, Allen N (2010). Mendidik dengan hati. PT Mizan Pustaka. Bandung Takamizawa hajime (2004). 新はじめての日本語教育. Asuku Kabushiki Gaisha. Japan Takamizawa hajime at all (2004). 新はじめての日本語教育 基本用語辞典. Asuku Kabushiki Gaisha. Japan
Contact Person:
Juju Juangsih, M.Pd (Email : juangzu@yahoo.com) Dianni Risda, M.Ed Dedi Suryadi, P.hD Wawan Danasasmita, M.Ed