Pengembangan Bahan Ajar

A. Prosedur Pembelajaran
Perekayasaan proses pembelajaran dapat didesaian oleh guru sedemikian rupa. Idealnya kegiatan untuk siswa pandai harus bebbeda dengan kegiatan untuk siswa sedang atau kurang, walaupun untuk memahami satu jenis konsep yang sama karena setiap siswa mempunyai keunikan masing-masing. Hal ini menunjukan bahwa pemahaman terhadap pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tidak dapat diabaikan.
Istilah pendekatan, metode, dan teknik dalam proses pembelajaran. Pendekatan dapat diartikan sebagai seperangkat asumsi berkenaan dengan hakikat dalam belajar mengajar. Metode adalah rencana menyeluruh tentang pengertian materi ajar secara sistematis dan berdasarkan kedekatan yang ditentukan. Sedangkan teknik adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam ke;as sesuai dengan metode dan pendekatan yang dipilih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat aksiomatis, bersifar prosedural, dan teknik bersifat operasional.

Pendekatan
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, diantaranya :
a. Pendekatan fisiologis ( phsycological approach )
Pendekatan ini perlu dipertimbangkan mengingat aspek psikologis manusia yang meliputi aspek rasional/intelektual, aspek emosional, dan aspek ingatan.
b. Pendekatan Sosio-kultural ( social-cultural approach )
Suatu pendekatan yang melihat dimensi manusia tidak saja sebagai individu melainkan juga sebagai makhluk sosial budaya yang memiliki berbagai potensi yang signifikan bagi pengembangan masyarakat, dan juga mampu mengembangkan sistem budaya dan kebudayaan yang berguna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.

Metode
Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan ditetapkan. Dalam proses pembelajaran tentunya ada metode yang digunakan yang turut menentukan sukses atau tidaknya pencapaian tujuan pembelajaran
Secara harfiah, kata metodologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “mefha” yang berarti melalui, “hodos” yang berarti jalan atau cara, dan kata “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi, metodologi pendidikan adalah jalan yang kita lalui untuk memberikan kepahaman atau pengertian kepada anak didik, atau segala macam pelajaran yang diberikan.
Berikut ini beberapa metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran
1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan kepada anak didik dilakukan secara lisan. Yang perlu diperhatikan, hendaknya ceramah mudah diterima, isinya mudah dipahami serta mampu menstimulasi pendengar (anak didik) untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar dari isi ceramah yang disampaikan.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, tujuan metode ceramah adalah menyampaikan bahan yang bersifat informasi (konsep, pengertian, prinsip-prinsip) yang banyak serta luas. Secara spesifik metode ceramah bertujuan untuk:
a) Menciptakan landasan pemikiran peserta didik melalui produk ceramah yaitu bahan tulisan peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah.
b) Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran.
c) Merangsang peserta didik untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pemerkayaan belajar.
d) Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara gamblang.
e) Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh peserta didik.
Alasan guru menggunakan metode ceramah harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Metode ini digunakan karena pertimbangan:
a) Anak benar-benar memerlukan penjelasan, misalnya karena bahan baru atau guna menghindari kesalahpahaman.
b) Benar-benar tidak ada sumber bahan pelajaran bagi peserta didik.
c) Menghadapi peserta didik yang banyak jumlahnya dan bila menggunakan metode lain sukar diterapkan.
d) Menghemat biaya, waktu dan peralatan.

2) Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah mengajukan pertanyaan kepada peserta didik yang dimaksudkan untuk merangsang peserta didik untuk berpikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
Proses tanya jawab terjadi apabila ada ketidaktahuan atau ketidakpahaman akan sesuatu peristiwa. Dalam proses belajar mengajar, tanya jawab dijadikan salah satu metode untuk menyampaikan materi pelajaran dengan cara guru bertanya kepada peserta didik atau peserta didik bertanya kepada guru. Adapun tujuan metode tanya jawab adalah:
a) Mengecek dan mengetahui sampai sejauhmana kemampuan anak didik terhadap pelajaran yang dikuasainya.
b) Memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengajukan pertanyaan kepada guru tentang sesuatu masalah yang belum dipahaminya.
c) Memotivasi dan menimbulkan kompetisi belajar.
d) Melatih anak didik untuk berpikir dan berbicara secara sistematis berdasarkan pemikiran yang orsinil.

3) Metode Tulisan
Metode tulisan adalah metode mendidik dengan huruf atau simbol apapun, ini merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan jembatan untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

4) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Untuk mendapatkan hal yang disepakati, tentunya masing-masing menghilangkan perasaan subjektivitas dan emosionalitas yang akan mengurangi bobot pikir dan pertimbangan akal yang semestinya.
Diskusi pada dasarnya ialah tukar menukar informasi, pendapat, dan pengalaman untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu (Nana Sudjana, 2002). Metode diskusi bertujuan untuk:
a) Melatih peserta didik mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan dan menyimpulkan bahasan.
b) Melatih dan membentuk kestabilan sosio-emosional.
c) Mengembangkan kemampuan berpikir sendiri dalam memecahkan masalah sehingga tumbuh konsep diri yang lebih positif.
d) Mengembangkan keberhasilan peserta didik dalam menemukan pendapat.
e) Mengembangkan sikap terhadap isu-isu kontroversial.
f) Melatih peserta didik untuk berani berpendapat tentang sesuatu masalah.

5) Metode Pemecahan Masalah (problem solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah. Metode problem solving bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mengumpulkan data sampai kepada menarik kesimpulan.
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode problem solving adalah sebagai berikut:
a) Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.
b) Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain-lain.
c) Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban ini tentu saja didasarkan kepada data yang telah diperoleh.
d) Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut itu betul-betul cocok.
e) Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai kepada kesimpulam terakhir tentang jawaban dari masalah tadi.

6) Metode Kisah
Pendidikan dengan metode ini dapat membuka kesan mendalam pada jiwa seseorang (anak didik), sehingga dapat mengubah hati nuraninya dan berupaya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai dampak dari kisah-kisah itu, apalagi penyampaian kisah-kisah tersebut dilakukan dengan cara menyentuh hati dan perasaan.

7) Metode Perumpamaan
Metode perumpamaan adalah suatu metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan hakikat dari realitas sesuatu. Perumpamaan dapat dilakukan dengan menggambarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang serupa, seperti mengumpamakan sesuatu yang rasional-abstrak engan sesuatu yang bisa diindera. Adapun tujuan perumpamaan:
a) Perumpamaan dapat mendekatkan gambaran yang diumpamakan dalam pikiran pendengar.
b) Merasa puas dengan gagasan tertentu, sehingga kepuasan itu menjadi satu argumen yang kokoh lewat gambaran yang mirip.
c) Memberikan motif dengan cara memperindah atau menakut-nakuti.
d) Memiliki hasrat atau keinginan, sehingga setelah hasrat atau keinginan lahir, maka orang akan memiliki ketetapan hati untuk menerima apa yang disarankan.
e) Untuk memuji atau mencela, dan untuk mengagungkan atau menghinakan.
f) Mengasah otak dan menggerakkan potensi pemikiran atau timbul kesadaran untuk merenung.

8) Metode Pemahaman dan Penalaran
Metode ini dilakukan dengan membangkitkan akal dan kemampuan berpikir anak didik secara logis. Metode ini adalah metode mendidik dengan membimbing anak didik untuk dapatt memahami problema yang dihadapi dengan menemukan jalan keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih anak didik menggunakan pikirannya dalam menata dan menginventarisasi masalah, dengan cara memilah-milah, membuang mana yang salah, meluruskan yang bengkok, dan mengambil yang benar.
9) Metode Perintah Berbuat Baik dan Saling Memotivasi
Pemberian nasihat atau penyuluhan kepada anak adalah salah satu yang sangat penting untuk dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan menggugah perasaan dan kemauan anak didik untuk dapat melakukan sesuatu yang positif dan mengaplikasikan apa yang telah diajarkan. Penyuluhan juga dapat diartikan sebagai proses bimbingan kepada anak didik sebagai subjek individual dan sosial yang perlu diaktualisasikan potensi dan kompetensinya secara maksimal.
Metode ini dimaksudkan untuk memotivasi anak didik untuk mengaplikasikan ajaran yang telah di terapkan. Tentunya dalam pemberian bimbingan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik. Diantaranya adalah:
• karakteristik anak didik seperti kompetensi, potensi, minat, bakat, kecerdasan dan sikapnya
• kondisi lingkungan anak didik seperti lingkungan keluarganya, sekolah, maupun masyarakat
• kemungkinan-kemungkinan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki untuk pembinaan perkembangan anak didik selanjutnya
• serta juga pendidik perlu untuk memperhatikan kondisi fisik dan psikis anak didik termasuk hal hal yang berkaitan dengan kesulitan emosional yang bisa menghambat perkembangan anak didik.

Wujud dari proses pemberian nasihat kepada anak didik disekolah dapat bersifat:
a) memelihara atau preservative, yakni membantu memelihara dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak didik dapat tumbuh berkembang secara optimal.
b) Mencegah atau preventif, yakni membantu mencegah terjadinya tindakan anak didik yang kurang efektif dan efisien.
c) Menyembuhkan atau curative, yakni membantu memperbaiki kekeliruan yang telah terjadi.
d) Merehabilitasi atau rehabilitation, yakni meninjaklanjuti sesuadah anak didik memperoleh bantuan dan bimbingan untuk diusung kearah yang lebih baik.

Adapun untuk pemberian nasihat dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini:
a) Teguran secara langsung
Teguran secara langsung dimaksudkan untuk memberikan kesadar kepada anak didik untuk tidak melakukan hal yang tidak baik. Teguran ini diberikan secara langsung dan bersifat lebih tegas serta memberikan efek yang lebih mendalam kepada anak didik yang bersangkutan tersebut.
b) Teguran secara tidak langsung
Teguran secara tidak langsung ini bersifat lebih halus serta memberikan kesan menjaga perasaan anak didik yang bersangkutan tersebut sehingga murid yang bersangkutan dapat merasa tenteram dan nyaman ketika guru meluruskan kesalahannya, sehingga murid dapat menyiapkan mentalnya untuk memperbaiki kesalahannya.

10. Metode Suri Tauladan
Metode ini dimaksudkan untuk memberikan contoh yang baik kepada anak didik. Selaku pendidik sudah seharusnya untuk memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak didik. Dalam usia anak didik, mereka sedang mencari sosok yang dapat mereka contoh. Dan para pendidik diharapkan dapat mencadi sosok yang dicontoh oleh anak didiknya tersebut.

11. Metode Manfaat
Manfaat atau hikmah mengandung pengertian perkataan tegas dan benar antara yang benar dan yang salah. Penggunaan metode ini dimaksudkan dalam upaya menuntut orang lain untuk menggunakan akalnya untuk mendapatkan kebenaran dan kebaikan, namun dalam hal ini diperlukan penjelasan yang rasional, keterangan yang tegas serta apa yang dikemukakan dengan dasar atau alasan yang benar beserta bukti yang nyata.
Anak didik diberikan pengarahan atau pemberitahuan tentang manfaat dari suatu persoalan, sehingga dapat memberikan pandangan baru bagi para anak didiknya.

9. Metode Peringatan dan Pemberian Motivasi
Motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan. Motivasi terbentuk oleh tenaga tenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu. Terhadap tenaga-tenaga tersebut para ahli memberikan istilah yang berbeda seperti desakan atau drive, motif atau motive, kebutuhan atau need dan keinginan atau wish.
Desakan atau drive diartikan sebagai dorongan yang diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani. Motif adalah dorongan yang terarah kepada pemenuhan kebutuhan psikis atau rohaniah. Kebutuhan adalah merupakan suatu keadaan dimana individu merasakan adanya kekurangan atau ketiadaan sesuatu yang diperlukannya. Sedangkan wish adalah harapan untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu yang diinginkan atau dibutuhkan. Kondisi-kondisi yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu kegiatan disebut motivasi.
Perilaku individu tidak berdiri sendiri, selalu ada hal yang mendorongnya dan tertuju pada suatu tujuan yang ingin dicapainya. Memotivasi anak sangat perlu dilakukan oleh pendidik. Memotivasi anak adalah suatu kegiatan member dorongan agar anak didik bersedia dan mau mengerjakan kegiatan atau perilaku yang diharapkan. Anak yang memiliki motivasi akan memungkinkan dia untuk mengembangkan dirinya sendiri. Salah satu contoh untuk memotivasi anak adalah dengan cara membuat senang hati anak, membantu agar anak terpancing melaksanakan sesuatu, kelembutan, menyayangi dan mencintainya.

10. Metode Praktik
Metode praktik dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seraya diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas dan gambling sekaligus dapat mempraktikan materi yang dimaksud.

11. Metode Karyawisata
Dengan metode karyawisata ini dapat memberikan pengaruh yang besar dalam menggiatkan fisik dan jiwa. Dianjurkan bagi orang tua dan pendidik untuk mengkhususkan waktunya untuk kegiatan karyawisata ini.
Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan rekreasi adalah:
a) Menyegarkan tubuh, menambah kesehatan, dan melakukan terapi penyembuhan atas beberapa penyakit.
b) Melatih anak didik agar kuat, tahan banting, dan mampu menahan lapar dan dahaga.
c) Para pembimbing atau pendidik atau pendidik menganjurkan agar memperhatikan tingkah laku anak-anak dan sikap mereka dalam menghadapi berbagai hal yang beragam dan berbeda.

12. Pemberian Ampunan dan Bimbingan
Metode ini dilakukan dalam rangka member kesempatan kepada anak didik untuk memperbaiki tingkah lakunya dan mengembangkan dirinya.
Bimbingan orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya perlu diberikan dengan memberikan alasan, penjelasan, pengarahkan dan diskusi-diskusi. Juga bisa dilakukan dengan teguran, mencari tahu penyebab masalah dan kritikan sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku anak.
Menurut Muhammad Surya, bimbingan lebih merupakan suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Bimbingan akan tepat apabila dilaksanakan sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan minat. Menurut Irwan Prayitno, bimbingan dengan memberikan nasihat perlu memperhatian cara-cara sebagai berikut.
1. Cara memberikan nasihat lebih penting dibandingkan isi atau pesan nasihat yang akan disampaikan.
2. Memelihara hubungan baik antara orangtua dengan anak, guru dengan murid, karena nasihat akan mudah diterima bila hubungannya baik.
3. Memberikan nasihat seperlunya dan jangan berlebihan. Nasihat sebaiknya tidak langsung, tetapi juga tidak bertele-tele sehingga anak tidak bosan.
4. Berikan dorongan agar anak bertanggung jawab dan dapat menjalankan isi nasihat.

13. Metode Kerjasama
Yang dimaksudkan dengan metode kerjasama ialah upaya saling membatu antara dua orang atau lebih, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok lainnya dalam melaksanakan tugas atau menyelesaikan problema yang dihadapi dan atau menggarap berbagai program yang bersifat prospektif guna mewujudkan kesejahteraan bersama.

14. Metode Pentahapan
Dalam metode ini adalah penyampaian secara bertahap, sedikit demi sedikit dan berangsur-angsur. Dalam program perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya diikuti langkah-langkah strategis sesuai denga tahapan-tahapannya, misalnya dari mudah ke sulit, dari sederhana ke kompleks, dari kongkrit ke abstrak.

Teknik
Langkah pembelajaran memuat rangkain kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan siswa secara berurutan sehingga cocok dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa.
Berbagai metode yang dikemukakan di atas selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajarannya.
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kecakapan kognitif banyak sekali. Di antaranya dengan ‘Sorogan’ pada saat menghafal ayat-ayat Al-Quran (biasanya diterapkan di pesantren-pesantren tradisonal). Selanjutnya dengan teknik ‘Mnmonic’ yaitu, dengan menghafal bagian-bagian awal huruf/suku kata dar beberapa poin-poin yang harus di hafal.
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada psikomotor di antaranya metode drill and practice, berlatih dan mempraktekan seperti pada materi melafalkan huruf Al-Quran, berwudlu dan praktek ibadah shalat.
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai (Afektif) ada bermacam-macam, di antaranya ialah (1) Teknik Indoktrinasi; (2) Teknik Moral Reasoning; (3) Teknik meramalkan konsekuensi; (4) Teknik klarifikasi; (5) Teknik internalisasi. (Noeng Muhadjir, 1998).
Berikut ini dijabarkan prosedur penggunaan teknik-teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai sebagaimana diuraikan Muahimin (2004: 176-179) sebagai berikut.
1. Teknik Indoktrinasi
Prosedur teknik ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
a. Brainwashing, yakni pendidik memulai pendidikan nilai dengan cara merusak tata nilai yang sudah mapan dalam pribadi siswa untuk dikacaukan, sehingga mereka menjadi tidak mempunyai pendirian lagi. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengacaukan pikiran siswa misalnya dengan: Tanya jawab, wawancara mendalam, dsb. Pada saat pikirannya sudah kosong dan pendiriannya sudah hilang maka dilanjutkan dengan tahap kedua.
b. Menanamkan Fanatisme, yakni pendidik berkewajiban menanamkan ide-ide baru yang dianggap benar sehinga nilai-nilai yang ditanamkannya masuk kepada anak tanpa melalui pertimbangan rasioanal yang mapan. Dalam menanamkan fanatisme ini lebih banyak digunakan pendekatan emosional daripada pendekatan rasional. Apabila siswa telah mau menerima nilai-nilai itu secara emosional, barulah ditanamkan doktrin yang sesungguhnya.
c. Penanaman Doktrin, yakni pada taha in pendidik data menggunakan pendekatan emosional ‘keteladanan’. Pada saat penanaman doktrin ini hanya dikenal adanya satu nilai kebenaran yang disajikan, dan tidak ada alternative lain. Semua siswa harus menerima kebenaran itu tanpa harus mempertanyakan hakikat kebenaran itu.
2. Teknik Moral Reasoning
Prosedur teknik ini dilakukan dengan tahap-tahap seperti berikut:
a. Penyajian dilemma moral, pada tahap ini siswa dihadapkan dengan problematic nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang bersifat sederhana sampai kepada yang kompleks. Cara penyajiannya dapat melalui observasi, membaca Koran/majalah, mendengarkan sandiwara, melihat film dsb.
b. Pembagian kelompok diskusi setelah disajikan problematk dilemma moral tersebut, kemudian siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan hasil pengamatan terhadap dilemma moral tersebut.
c. Hasil diskusi kelompok selanjutnya dibawa dalam diskusi kelas dengan tujuan untuk mengadakan klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya.
d. Setelah siswa mendiskusikan secara intensif dan melakukan seleksi nilai yang terpilih sesuai dengan alternatif yang diajukan, selanjutnya siswa mengorganisasi nilai-nilai terpilih tersebut dalam dirinya. Hal ini bisa diketahui lewat pendapat siswa, misalnya melalui karangan-karangannya yang disusun setelah diskusi, atau tindakan follow-up dari kegiatan diskusi itu.
3. Teknik Meramalkan Konsekuensi
Teknik ini sebenarnya merupakan penerapan dari pendekatan rasional dalam mengajarkan nilai. Dalam arti mengadalakan kemampuan berpikir ke depan bagi siswa untuk membuat gambaran tentang hal-hal yang akan terjadi dari penerapan suatu nilai tertentu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Siswa diberikan suatu kasus melalui cerita, membaca majalah, melihat film, atau melihat kejadian konkret di lapangan.
b. Siswa diberi beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan nilai-nilai yang ia lihat, ketahui dan ia rasakan. Pertanyaan itu bersifat memperdalam wawasan tentang nilai yang dilihat, alas an dan kemungkinan yang akan terjadi dari nilai-nilai tersebut, atau menghubungkan kejadian itu dengan kejadian lain yang ada kaitannya dnegan kasus tersebut.
c. Upaya membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam kasus itu dengan nilai lain yang bersifat kontradiktif
d. Kemampuan meramalkan konsekuensi yang akan terjadi dari pemilihan dan penerapan suatu tata nilai tertentu.
4. Teknik Klarifikasi
Teknik ini merupakan salah satu cara untuk membantu anak dalam menentukan nilai-nilai yang akan dipilihnya. Dalam teknik ini dapat dilakukan dengan tiga tahap, yaitu:
a. Tahap pemberian contoh, guru memberikan nila-nilai yang baik dan memberikan contoh penerapannya. hal ini dapat ditempuh dengan cara observasi, melibatkan siswa dalam kegiatan nyata, pemberian contoh langsung, dsb.
b. Tahap mengenal kelebihan dan kekurangan dari nilai yang telah dikenal oleh siswa lewat diskusi, Tanya jawab dan dari kegiatan ini siswa dapat memilih nilai-nilai yang ia anggap paling baik dan benar.
c. Tahap mengorganisasikan tata nilai pada dri sswa. Setelah pemlihan nilai ditentukan maka siswa dapat mengorganisasikan system nila tersebut dalam drnya dan menjadkan nilai itu sebagai diri pribadinya.
5. Teknik Internalisasi
Kalau teknik diatas terbatas pada pemlihan nilai dengan disertai wawasan yang cukup luas dan mendalam maka dalam teknik ini memepunyai sasaran sampai menyatu pada kepribadian siswa, atau sampai pada taraf karakterisasi atau me-watak. Tahap-tahap dari teknik ini, yaitu:
a. Tahap Transformasi Nilai, pada tahap ini guru menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal.
b. Tahap Transaksi Nilai, yakni suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah atau timbale balik. Dalam tahap ini guru tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik atau buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberikan contoh nyata dan siswa harus merespon.
c. Tahap Transinternalisasi, tahap ini penampilan guru dihadapan siswa sudha tidak lagi fisiknya saja melainkan mentalnya juga (kepribadian). Demikian juga siswa merespon kepada guru bukan hanya gerkannya saja, melainkan kepribadiannya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dalam transinteralisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat scara aktif.
Proses dari teknik ini mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, yaitu:
• Menyimak (receiving)
Yakni kegiatan siswa untuk bersedia menerima adanya stimulus yang berupa nilai-nilai baru yang dikembangkan dalam sikap afektifnya.
• Menanggapi (responding)
Yakni kesediaan siswa untuk merespon nilai-nilai yang ia terima dan sampai ke tahap memiliki kepuasan untuk merespon nilai tersebut.
• Memberi nilai (valuing)
Yakni sebagai kelanjutan dari aktifitas merespon nilai hingga siswa mampu memberikan makna baru terhadap nilai-nilai yang muncul dengan kriteria yang diyakini kebenarannya.
• Mengorganisasi nilai (organization of value)
Yakni aktifitas siswa untuk mengatur berlakunya sistem nilai yang ia yakini dalam prilakunya sehingga ia memiliki satu sistem nilai yang berbeda dengan orang lain.
• Karakteristik nilai
Yakni dengan membiasakan nilai-nilai yang diyakini dan telah diorganisir dalam kepribadiannya sehingga nilai tersebut sudah menjadi watak yang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupannya.

B. Jenis Bahan ajar
Bahan adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanakan kegatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahab tulis maupun tidak tertulis.
Dengan bahan ajar, kemungkinan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.
Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru atau instructor untuk perencanaan dan implementasi pembelajaran.
Pengelompokan bahan ajar menurut Faculte de psychologie et des sciences de l’Education Universite de Geneve adalah:
1. Media tulis atau cetak
2. Audio visual
3. Elektronik
4. Interaktif

1. Media Tulis atau Cetak
Bahan ajar tulis dan cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ini tersusun dengan baik makan bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti:
• Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan guru untuk memudahkan guru untuk menunjukan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari.
• Biaya pengadaanya relative sedikit.
• Bahan tulis cepat digunakan dan dapat dengan mudah dipindah-pindahkan.
• Menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu
• Bahan ajar yang baik mampu maotivasi pembaca untuk menandai, mencatat, dan membuat sketsa.
• Bahan tulis dapat dihargai sebagai dokumen yang bernilai besar.
• Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri.

1) Handout
Handout adalah bahan tertulis yang dipersiapkan oleh seseorang guru untuk memperkaya perserta didik. Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memiliki hubungan dengan materi yang diajarkan atau kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik.

2) Buku
Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmu pengetahuan. Oleh pengarangnya isi buku didapat dari berbagai macam, misalnya: hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi.
Buku yang baik adalah buku yang ditulis menggunakan bahasa yang baik yang mudah dimengerti, disajikan secara menarik, dilengkapi dengan gampar dan keterangan-keterangannya, isi buku juga mengambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisnya. Buku pelajaran berisi tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh perserta didik untuk beajar.
3) Modul
Modul adalah sebuah bahan ajar yang bertujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang segala komponen dasar bahan ajar yang telah disebutkann sebelumnya. Modul harus mengambarkan kompetensi dasar yang akan dicapai oleh peserta didik, disajikan dengan menggunakan bahas ayang baik, menarik dan dilengkapi dengan ilustrasi.
4) Lembar kegiatan siswa
Lembar kegiatan siswa adalah lembar-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. Tugas-tugas dalam sebuah lembar kegiatan tidak akan dapat dikerjakan oleh peserta didik dengan baik apabila tidak dilengkapi oleh buku lain atau buku referensi lain yang terkait dengan materi tugasnya.
5) Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak yang biasanya berupa bagan siklus atau proses atau grafik yang bermakna menunjukan suatu hal tertentu. Wallchart biasanya termasuk kedalam alat bantu mengajar, tetapi dalam hal ini wallchart dapat dijadikan sebagain bahan ajar jika memenuhi syarat memiliki kejelasan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh perserta didik, diajarkan untuk beberapa lama, dan bagaimana cara menggunakannya.

2. Audio
1) Kaset
Sebuah kaset yang direncanakan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah program yang dapat dipergunakan sebagai bahan ajar. Media kaste dapat menyimpan suara yang memungkinkan untuk dapat didengar secara berulang-ulang oleh peserta didik. Bahan ajar kaset biasanya digunakan pada mata pelajaran bahasa dan juga musik. Bahan ajar kaset tidak dapat berdiri sendiri, sebab bahan ajar kaset membutuhkan bantuan alat seperti tape recorder dab juga lembar sekenario dari guru.

3. Audio Visual
1) Video atau Film
Program video biasanya telah dubuat dengan rancangan lengkap, sehingga setiap akhir dari penanyangan siswa dapat menguasai satu atau leih kompetensi dasar.
Beberapa keuntungan jika menggunakan bahan ajar video adalah:
• Dengan video atau film seseorang dapat belajar secara otodidak
• Sebagai media pandang dan dengar menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang berkali-kali
• Dapat menampilkan sesuatu yang detail dari benda yang bergerak, kompleks yang sulit dilihat oleh mata
• Video dapat dipercepat maupun diperlambat
• Memungkinkan pula untuk membandingkan anatara dua adegan yang berbeda
• Video juga dapat digunakan sebagai alat tampilan nyata dari suatu adegan
Kekurangan dari bahan video adalah proses pembuatannya yang memerlukan waktu relatife lama dan biaya yang besar. Namun demikian jika di produksi oleh oleh suatu lembaga besar yg d produksi dengan jumlah yang besar maka biayanya akan lebih murah, seperti contohnya belajar melalui film.
2) Orang atau Nara Sumber
Orang sebagai sumber belajar dapat juga dikatakan sebagai bahan ajar yang dapat dipandang dan didengar, karena dengan orang seseorang dapat belajar misalnya karena orang itu memiliki suatu katerampilan khusus tertentu. Melalui keterampilannya eseorang dapat dijadikan bahan belajar, bahkan seseorang guru pun dapat dijadikan sebagai bahan ajar. Jika menggunakan seseorang sebagai bahan ajar tidak dapat berdiri sendiri melaikan dikombinasikan dengan alat tulis.

4. Interaktif
Multimedia interaktif adalah kombinasi dari dua atau lebih media(audio, teks, grafik, gambar, animasi dan video) yang oleh penggunannya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah dan atau perilaku alami dari suatu prestasi. Saat ini sudah banyak orang memanfaatkan bahan ajar ini. Karena disamping menarik juga memudahkan bagi pengguna dalam mempelajari suati bidang tertentu. Biasanya bahan ajar multimedia secara lengkap mulai dari petunjuk penggunaanya hinga penilaian.
Bahan ajar interaktif dalam menyiapkannya diperlukan pengatahuan dan keterampilan pendukung yang memadai terutama dalam mengoprasikan peralatan seperti computer, kamera video, dan kamera foto. Bahan ajar interaktif biasanya disajikan dalam bentuk compact disk.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: