Porfolio

A.Teori Belajar yang Mendasari Pembelajaran Berbasis Portofolio

Dasar dari pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio adalah teori belajar konstruktivisme, yang pada prinsipnya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungannya (Kamii, dalam Poedjiadi 1994:4). Prinsip paling umum dan esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme, bahwa dalam merancang sesuatu pembelajaran adalah anak-anak (siswa) memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (kelas). Pemberian pengalaman belajar yang beragam memberikan kesempatan siswa untuk mengelaborasikannya. Dengan demikian pendidikan dalam hal ini pembelajaran hendaknya memperhatikan hal di atas dan menunjang proses alamiah ini.
Menurut Yager, (1992:16 dalam Hidayat 1996) penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pembelajaran. Sebagai contoh isu atau masalah yang muncul digunakan sebagai dasar pembahasan diskusi dan investigasi kegiatan di dalam atau di luar kelas. Pembelajaran Berbasis Portofolio sangat memperhatikan dan bahkan melakukan hal tersebut dalam proses kegiatan belajar siswa.
Berdasarkan konstruktivisme sosial yang dikemukakan oleh Vygotsky (1978 dalam Poedjiadi 1996) pada dasarnya memandang bahwa dengan mengadakan diskusi atau mendengar pendapat orang lain, seseorang membentuk pengetahuan atau membentuk pengetahuan yang sebelumnya telah dimilikinya.
Pembelajaran berbasis portofolio dapat juga dikatakan sebagai upaya mendekatkan siswa kepada objek yang dibahas. Pengajaran yang menjadikan materi pelajaran yang dibahas secara langsung dihadapkan kepada siswa, atau siswa secara langsung mencari informasi tentang hal yang dibahas ke alam atau masyarakat sekitarnya.
Pembelajaran berbasis portofolio memungkinkan siswa untuk :
1. Berlatih memadukan antara konsep yang diperoleh dari penjelasan guru atau dari buku bacaan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Siswa diberi kesempatan untuk mencari informasi di luar kelas, baik informasi yang sifatnya benda /bacaaan, penglihatan (objek langsung, TV/radio/internet) maupun orang/pakar/tokoh;
3. Membuat alternatif untuk mengatasi topik/objek yang dibahas
4. Membuat suatu keputusan (sesuai kemampuannya) yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajarinya, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
5. Merumuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah dan mencegah timbulnya masalah yang berkaitan dengan topik yang dibahas.
Pembelajaran berbasis portofolio seperti di atas, memberi keragaman sumber belajar dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih sumber belajar yang sesuai sebagai landasan untuk menyusun (constructifism) fenomena alam atau masyarakat dan lain-lain pada masing-masing siswa.
Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip KBK dan KTSP, yakni berpusat pada anak sebagai pembangun pengetahuan. Dengan demikian baru akan diperoleh melalui pengalaman langsung yang lebih efektif. Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator belajar (KBK,2001:10).

B.Peran Portofolio sebagai Model Pembelajaran

Perlu diketahui Portofolio sebagai model pembelajaran diadaptasi dari model “we the people… Project Citizen” yang dikembangkan oleh Center Civic Education (CCE) yang berkedudukan di Calabas, Amerika Serikat. Di Indonesia model pembelajaran ini dikembangkan pertama kali di Jawa Barat melalui perintisan di enam SLTP negeri sejak tahun 2000.
Portofolio berasal dari bahasa Inggris “Portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Pengertian portofolio disini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan-tujuan penilaian portofolio. Biasanya portofolio merupakan karya terpilih seorang siswa, tetapi dalam model pembelajaran ini setiap portofolio berisi karya terpilih dari satu kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif memilih, membahas, mencari data, mengolah, menganalisa dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji. Tampilan portofolio berupa tampilan visual atau audio yang disusun secara sistematis, melukiskan proses berpikir yang didukung oleh seluruh data yang relevan. Secara utuh melukiskan “integrated learning experiences” atau pengalaman belajar yang terpadu dan dialami oleh siswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan.
Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar sehingga memiliki kemampuan mengorganisir informasi yang ditemukan, membuat laporan dan menuliskan apa yang ada dalam pikirannya, dan selanjutnya dituangkan secara penuh dalam tugas-tugasnya.
Strategi instruksional yang digunakan dalam model pembelajaran portofolio ini pada dasarnya bertolak dari strategi “inquiry learning, discovery learning, problem solving learning, research oriented learning” yang dikemas dalam model “project” oleh John Dewey . Dalam hal ini ditetapkanlah langkah-langkah sebagai berikut:
1. mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat
2. memilih suatu masalah untuk dikaji di kelas
3. mengumpulkan informasi yang terkait dengan masalah yang dikaji
4. membuat portofolio kelas
5. menyajikan portofolio/dengar pendapat
6. melakukan refleksi pengalaman belajar
Disitulah berbagai keterampilan dikembangkan seperti membaca, mendengarkan pendapat orang lain, bertanya, mencatat, menjelaskan, memilih, menimbang, mengkaji, merancang dan lain-lain.
Portofolio sebagai model pembelajaran terbagi dalam dua bagian, yakni:
1. portofolio tayangan (tampilan)
Pada umumnya berbentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) berjajar dan dapat berdiri sendiri tanpa penyangga. Namun tidak menutup kemungkinan berbentuk lain, seperti segitiga sama sisi, lingkaran, oval dan sebagainya sesuai dengan daya kreativitas siswa, dengan syarat tetap komunikatif. Portofolio tayangan kurang lebih berukuran 100 cm untuk bujur sangkar dan bentuk lainnya menyesuaikan, terbuat dari kardus/papan/gabus/steroform atau bahan lainnya. Perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan hendaknya memperhitungkan kekuatan/keawetannya sehingga tidak mudah rusak.
2. portofolio dokumentasi
Berisi kumpulan bahan-bahan terpilih yang dapat diperoleh siswa dari literature/buku, kliping dari koran/majalah, hasil wawancara dengan berbagai sumber, Radio/TV, foto, gambar, grafik, petikan dari sejumlah publikasi pemerintah/swasta, kebijakan dari pemerintah, observasi lapangan dan lain-lain. Pada prinsipnya portofolio dokumentasi merupakan bukti bahwa telah dilaksanakan penelitian.
Manfaat dari portofolio dokumentasi selain sebagai bukti telah melaksanakan penelitian, juga dimaksudkan untuk mendukung dan melengkapi portofolio tayangan, karena tidak semua bahan dapat dituangkan pada portofolio tayangan. Portofolio ini selanjutnya disajikan dalam simulasi/dengar pendapat dalam acara “Show Case” (gelar kemampuan) yang dilaksanakan di dalam kelas dengan bimbingan guru lainnya.

C.Metode dalam Pembelajaran Portofolio

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran portofolio,strategi pembelajaran ini dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan daya kreativitas guru. antara lain sebagai berikut:
1. Metode inkuiri
Metode ini memiliki keunggulan terutama untuk mengembangkan kemampuan berpikir maupun pengetahuan, sikap dan nilai pada peserta didik dibanding dengan pendekatan tradisional. Prosedur penggunaan model ini dapat dilakukan guru secara sederhana yaitu dengan memberikan sejumlah pertanyaan atau pernyataan kepada siswa. Selanjutnya siswa ditugasi untuk menjawab dengan menggunakan berbagai sumber belajar. Dalam menjawab pertanyaan maupun pernyataan tersebut siswa perlu mengadakan suatu pencarian sebagai bukti bahwa jawaban yang mereka berikan adalah benar. Bukti-bukti itulah yang akan dijadikan sebagai portofolio yang berisi kumpulan dokumen berupa data yang diperoleh siswa dari berbagai sumber belajar baik dari buku atau media cetak, elektronik maupun bersumber dari manusia.
2. Metode E-Learning (Electronic Learning)
Yakni kegiatan pembelajaran melalui perangkat elektronik komputer yang tersambungkan ke internet, dimana peserta didik berupaya memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Penerapan metode ini antara lain dapat dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada siswa untuk mencari informasi yang berkaitan dengan kompetensi dasar/topik yang sedang dipelajari /dibahas dan selanjutnya siswa mempresentasikan hasil pencarian tersebut di kelas. Kumpulan hasil pencarian informasi yang ditemukan siswa itulah portofolio.
3. Metode VCT (Value Clarivication Technique)
Teknik atau cara mengungkapkan nilai. Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai yang terdapat dalam suatu pokok bahasan, cerita, nyanyian/lagu, peristiwa/kejadian, tempat, perbuatan atau perilaku, dan sebagainya. Model ini dapat dilaksanakan guru dengan cara :
 Siswa diberi tugas untuk mencari sesuatu yang dapat dianalisa, seperti cerita, hasil reportasi/liputan, mengamati secara akurat /seksama atas suatu kejadian, cerita tidak selesai dan harus diselesaikan, selanjutnya menganalisis nilai-nilai tersebut. Hasil analisa dikumpulkan sehingga menjadi portofolio.
 Guru menyiapkan daftar baik buruk, daftar tingkat urutan, daftar skala prioritas, daftar gejala kontinum (yang terus menerus), daftar penilaian diri sendiri, dan daftar membaca perkiraan orang lain terhadap diri kita. Siswa diminta untuk menjawab dalam kertas-kertas yang akhirnya dikumpulkan oleh guru sebagai portofolio siswa.

D.Langkah-langkah portofolio sebagai model pembelajaran

Sebelumnya di atas telah sedikit disinggung tentang langkah-langkah pembelajaran portofolio berdasarkan “Project” John Dewey. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat
Pada tahap ini terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan guru bersama siswa, yaitu mendiskusikan tujuan, mencari masalah, apa saja yang siswa ketahui tentang masalah-masalah di masyarakat dan memberi tugas Pekerjaan Rumah tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat yang mereka anggap sangat berarti/penting sesuai dengan kemampuan siswa. Semua informasi yang diperoleh harus dicatat untuk didiskusikan di kelas.
2. Memilih masalah untuk kajian kelas
Sebelum memilih masalah yang akan dipelajari atau dikaji, hendaknya para siswa mengkaji terlebih dahulu pengetahuan yang telah mereka miliki tentang masalah-masalah di masyarakat, dengan langkah berikut ini: 1) mengkaji informasi yang telah dikumpulkan 2) mengadakan pemilihan tentang masalah yang akan dikaji 3) melakukan penelitian lanjutan tentang masalah yang dipilih.
3. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
Guru hendaknya membimbing siswa dalam mendiskusikan sumber-sumber informasi melalui perpustakaan, kantor penerbitan surat kabar, pakar, profesional, ormas, kantor legislatif, lembaga pemerintah dan jaringan informasi elektronik serta membuat dan menyebarkan angket atau polling.
4. Membuat portofolio kelas
Pada tahap ini siswa telah menyelesaikan penelitian yang memadai untuk mulai membuat portofolio kelas. Caranya, kelas dibagi dalam 4 kelompok, dan setiap kelompok akan bertanggung jawab untuk membuat satu bagian portofolio.
Kelompok 1 bertugas: menjelaskan masalah yang dikaji
Kelompok 2 bertugas: menjelaskan berbagai kebijakan alternatif untuk mengatasi
masalah.
Kelompok 3 bertugas: mengusulkan kebijakan untuk mengatasi masalah
Kelompok 4 bertugas: membuat rencana tindakan yang dilakukan untuk pemecah-
an masalah.
Selanjutnya portofolio dokumentasi kelas disusun secara menyeluruh dilakukan oleh seluruh kelompok yang bekerja bersama-sama. Walaupun setiap kelompok memiliki tugas khusus, mereka harus saling berkomunikasi satu sama lainnya untuk berbagi informasi dan pemikiran. Dengan demikian walaupun setiap kelompok mengerjakan penggalan-penggalan tertentu, namun secara keseluruhan membentuk satu kerangka pemikiran yang utuh sebagai suatu proses pemecahan masalah yang kritis dan kreatif.
5. Penyajian portofolio (Show Case)
Show case dilaksanakan setelah kelas menyelesaikan portofolio tampilan maupun dokumentasi. Show case dapat dilakukan dengan cara show case satu kelas, antar kelas dan antar sekolah dalam lingkup wilayah, kota/kabupaten, provinsi dan nasional.
6. Merefleksi pada pengalaman belajar
Dalam melakukan refleksi pengalaman belajar siswa, guru melakukan upaya evaluasi untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah mempelajari berbagai hal yang berkenaan dengan topik yang dipelajari sebagai upaya belajar kelas secara kooperatif.

E.Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Berbasis Portofolio

Kelebihannya antara lain, pertama mendorong kolaborasi (komunikasi dan hubungan) antara siswa dan siswa dan guru. Kedua, memungkinkan guru mengakses kemampuan siswa dalam membuat atau menyusun laporan, menulis dan menghasilkan berbagai tugas akademik. Ketiga, mengembangkan dan meningkatkan wawasan siswa mengenai isu atau masalah-masalah kemasyarakatan atau lingkungannya serta memotivasi kepedulian siswa terhadap lingkungan masyarakat. Keempat, mendidik siswa memiliki kemampuan merefleksi pengalaman belajarnya. Kelima, mengembangkan keterampilan atau kecakapan sebagai warga negara. Kemudian yang terakhir, pengalaman belajar yang tersimpan dalam memorinya akan lebih tahan lama karena telah melakukan serangkaian proses belajar dari mengetahui, memahami diri sendiri, melakukan aktifitas dan belajar bekerjasama dengan rekan-rekan.
Sedangkan kekurangannya yaitu: menggunakan waktu yang relatif lama, memerlukan ketekunan, kesabaran dan keterampilan guru, memerlukan biaya dan memerlukan adanya jaringan komunikasi yang erat antara siswa, guru, sekolah, keluarga, masyarakat dan lembaga instansi pemerintah maupun swasta.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: